Aku adalah kata ganti orang pertama atau pronomina yang merujuk kepada diri sendiri. Aku bersinonimi dengan "saya", "hamba", "beta", atau bahkan “gue”. Meskipun pronomina tersebut bersinonimi tetapi makna kedalamannya tidak selalu bersenyawa karena penggunaannya sangat kontekstual, tergantung kepada kesepahaman konteks, siapa penutur, siapa petutur dan berbagai hal lain yang berkaitan.
Jika ditelisik lebih dalam, Aku tidak “hanya” mewakili diri sendiri, tubuh, badan atau rujukan fisik seperti “milikku”, “mobilku”, “pendapatku”, “Aku rajin”, “Aku makan”. Contoh frasa tersebut menggambarkan bahwa Aku bergerak di wilayah “menyamakan diri” antara Aku dengan kata yang mengikuti atau diikutinya.
Lebih jauh lagi, Aku juga mewakili pikiran, gambaran diri dan bersifat rohaniah, tidak kasat mata. Oleh karena itu antara tubuh, badan atau rujukan fisik dengan Aku tidak selalu bersatu, bersama sehati sejiwa karena Aku jiwa, bukan raga.
Maka jika “milik aku” “gagasan aku” diambil paksa Aku akan marah, kecewa dan sedih. Tapi Aku tidak akan mampu mengidentifikasikan bagian mana pada tubuh yang terkena amarah atau kesedihan.
Kadang Aku merujuk jauh dari daya jangkauan manusia yang masih berada dalam lingkup dunia materi. Aku mampu menuju dunia imateri. Jika Aku berada di dunia imateri maka Aku akan mencakupi kemampuan pemilik semesta alam raya untuk menyatakan keterwakilannya dari sekadar tubuh atau fisik.
Menurut para cendikia, Aku
dilekatkan kepada tubuh manusia untuk menjalani hidup di dunia yang fana ini. Aku
juga diberi nafsu. Antara Aku dan tubuh akan saling menaklukan. Jika Aku
dikalahkan oleh tubuh maka lahirlah "keakuan" atau ego yang kerap memunculkan nafsu durjana dan angkara murka. Tentu saja bukan hal yang mudah meninggalkan "keakuan", terutama bagi pemuja aliran empirisme-materialistik.
Jika Aku bisa mengalahkan tubuh atau lahiriah maka perjalanan mengenali jati diri dan hakikat kemanusian akan bisa dilanjutkan menuju tujuan utama hakikat Aku. Maka terbanglah ke langit untuk melakukan pengembaraan menuju Sang Maha.
Wallahu a'lam bish-shawabi
Mantab sekali, Bu Irna..... hanya dengan satu kata "aku" sudah bisa membawa suatu perenungan diri sendiri yang mendalam .....
ReplyDeleteTerima kasih Jack Morino...
DeleteSpiritual journey.
ReplyDeleteBuah perenungan yg dalam, akan sulit tentunya bagi diri (aku) yg masih terus didikte benda.
Terima kasih. Dunia materi kerap menjadi hijab nurani..
DeleteJadi khawatir menggunakan kata 'aku'
ReplyDeleteHehehe.... jangan khawatir... karena "Aku" adalah Aku, Saya, atau Gue....Thanks Na...
ReplyDeletePenggunaan kata "aku" kalau tidak dalam konteks situasi yg tepat, bisa bermakna arogansi; tidak "humble".
ReplyDeleteSetuju... konteks berperan penting dalam berkomunikasi ya... terima kasih
Delete