Dalam pandangan saya yang miskin spritualitas, makhluk bumi tidak memiliki kesepahaman mengenai konsep ketuhanan, beragam. Jika saya tidak salah, konsep Tuhan dalam agama-agama samawi yang monoteistis saja “agak” berbeda. Apalagi agama di luar itu. Walaupun tujuan akhirnya, mungkin, kurang lebih sama tetapi cara mencapainya berbeda, maka jadilah sesuatu yang berbeda.
Saya percaya bahwa wujud sejati Tuhan itu satu. Yaitu Tuhan pemilik bumi dan langit. Tetapi kehadiranNya ada di berbagai penjuru karena Ia tak berbatas. Oleh karena itu kita dapat menyebutnya Tuhan bersifat abstrak dan universal.
Karena Tuhan itu tak kasat maka menjadi persoalan bagi sebagian orang untuk mengakui keberadaanNya. Apalagi jika hanya bertumpu kepada nalar, logika dan ilmu pengetahuan maka dipastikan akan kesulitan menerima keberadaan Tuhan.
MenemukanNya memang tidak bisa dihasilkan hanya dari dapur akal. Sentuhan batin dan nurani memiliki peran besar untuk menemukan keberadaanNya.
“Pencarian” Tuhan sebenarnya sudah dibahas sejak lama, misalnya, Plato (427-347 SM) yang mengatakan alam semesta dikuasai oleh dua Tuhan yang berbeda yaitu, Tuhan yang niscaya atau kebaikan dan Tuhan sebagai pencipta (kontijensi atau demiurge). Gagasan Plato diikuti pula oleh muridnya, Aristoteles dan para filosof lainnya yang juga membahas tentang Tuhan. Tapi saat ini saya tidak ingin membahas kisah “para pencari tuhan” kelas dunia dengan beragam teori yang pada akhirnya sebagian menyakini bahwa Tuhan itu ada, sedangkan yang lainnya menafikan.
Tuhan itu ada bukan hanya karena keberadaan benda di alam raya ini memerlukan pencipta dan yang mengaturnya saja tetapi kebesaran samudera cinta, cinta kepada siapapun atau apapun juga, membuktikan bahwa Tuhan "mengatur" rasa dan batin manusia. Sejauh yang saya ketahui, belum ada rekayasa teknologi yang mampu melengkapi temuannya dengan “rasa” seperti cinta, sedih, marah atau benci. Perasaan semacam itu jelas dapat dirasakan walaupun tidak berwujud.
Tuhan bersifat personal, Tuhan bisa “jauh” karena tidak tergapai oleh indra (transenden). Tapi Tuhan bisa pula terasa “sangat dekat”, di dalam hati manusia (imanen) seperti cinta.
Karena akal manusia terbatas maka tak perlu memaksa menalarkan diri, cukup melihat dan teruslah menelusuri kedalaman hati.
Bagi saya, Ia, ada di sana, di dalam relung hati sanubari.
Wallahu a'lam bish-shawabi
Saya suka dengan statement terakhir ini:
ReplyDelete"Karena akal manusia terbatas maka tak perlu memaksa menalarkan diri, cukup melihat dan teruslah menelusuri kedalaman hati".
Mantabs,B Irna 👍
Terima kasih... teruslah berselancar...
ReplyDeleteBagi yg meyakini, brp kalimat di dlm AlQur'an tdk perlu menalarkan diri, tp menerima ketetapan-NYA. Bahwa Allah berfirman "tidak Aku ciptakan manusia dan makhluk lainnya, kecuali utk menyembah-KU.
ReplyDelete👍👍👍✍✍✍🙏🙏🙏
ReplyDeleteMantap maaaakkk.... merinding. Kok saya jadi berkaca ya... sepertinya kita ada kemiripan (kalau tak sopan dikatakan 'sama') tahap perjalanan keimanan saat ini... Buah jatuh tak jauh dari pohonnya bukan?! Hahaha...
ReplyDeletePerjalanan spritual orang memang bisa sama, mirip atau bahkan berbeda... semoga ujung cerita berkisah tentang pencapaian baik...terbuka hijab nurani makhlukNya... Aamiin
DeleteNice ,sama seperti tulisan terakhir
ReplyDeleteBagi saya Allah itu ada dalam urat nadi kita .dan Allah itu baik , sangat sangat baik☺️🤗😇saya percaya rencananya lebih indah dari apapun💕💕✨
Absolutely agree... terima kasih
Delete