Introduction

Friday, September 3, 2021

Berapa Hasta Jarakku denganNya

 

Jarak memang nisbi. Perhitungan jarak antara satu tempat ke tempat lain sudah diketahui secara umum, bahkan diajarkan di sekolah. Jika Anda dilahirkan pada tahun-tahun sebelum tahun 1970 pasti ingat mata pelajaran yang membahas jarak, misalnya jarak Jakarta – Bogor 60 km, Jakarta – Bandung 120 Km dan seterusnya. 

 

Ternyata jarak tetap saja berbeda dalam tafsir tiap orang, meskipun perhitungan jarak sudah sangat jelas dan ditetapkan berdasarkan angka yang terukur, tidak kwalitatif... Rupanya jarak tidak mampu membuat manusia merasa jauh dari apa pun yang “berjarak” dan juga tidak mampu membuat manusia merasa dekat meskipun sudah di depan mata. 

 

Bayangkan saja bagaimana manusia bisa merasakan dekatnya “Ia”. Padahal, jika mungkin, berapa hasta yang harus ditempuh untuk sampai kepadaNya. Tak akan bisa manusia menghitung berapa  jarak antara bumi dan singgasanaNya dengan rumus apapun juga.

 

Untuk merasa dekat, manusia bukan hanya membutuhkan olah nalar “knowledge”, tetapi juga olah hati (batin) dengan memanfaatkan “divine knowledge”. Rasa dekat tersebut memang tidak bisa serta merta dirasakan oleh makhluk bumi jika tidak memadukan dua “knowledge” tersebut, nalar dan hati. Nalar atau akal dan hati sejatinya memiliki sifat halus dan lembut. Nalar terbatas hanya pada perkara pengetahuan dan “kepandaian”. Sedangkan hati atau batin juga menerima kebenaran namun dalam urusan spritual dan mampu menjangkau alam metafisik dengan dukungan nalar.

 

Pengetahuan (baca: nalar) dan rekayasa pendidikan atau kultur tidak mampu menuntun manusia untuk  memuliakan dan menjaga kesucian hatinya. Justru “pemaksaan” nalar   membuat jarak yang sesungguhnya dekat menjadi jauh. Sedangkan hasil olah batin mampu menghaluskan rasa sehingga mendekatkan jarak yang "berhasta-hasta".

 

Jarak didefinisikan beragam. Secara geografis  jarak adalah ruang yang menghubungkan antara dua lokasi atau dua objek. Dalam definisi lain yang lebih filosofis jarak dianggap sebagai konsep terkait posisi manusia yang berada di ruang dan waktu. Artinya di setiap penggal waktu merupakan proses hidup manusia yang harus dilalui hingga sampai jarak tertentu sebagai tujuan.

 

Oleh karenanya berapa hasta pun jarak antara satu tujuan ke tujuan lain tidak akan berarti apa-apa karena “tujuan” yang hendak dicapai berarti segalanya.

 

Jika demikian jelas bahwa kenisbian jarak ditentukan oleh tujuan. Kombinasi antara akal dan batin membawa manusia kepada tafsir jarak sesuai kebutuhannya.

 

Wallahu a'lam bish-shawabi

 


 

4 comments:

  1. Masya Allah,...
    Ini seperti kisah Sahabat Nabi berjuang demi tujuannya.

    ReplyDelete
  2. Yaaaaa.... upaya terus selama hayat masih di kandung badan. Tafsirkan Ia selalu ada di relung hati... Terima kasih

    ReplyDelete
  3. Bbrapa kali aku bermimpi dan terjatuh dikasur. Basah kuyup diterpa hujan ketika mengejar keretaku. Selalu aku ingat wajah teduh itu. Maka aku yakin pada akhirnya jarak hanya memisahkan raga. Tapi ia tak pernah sanggup menjauhkan mimpi, imaji dan kenangan yang kita semat bersama dalam rindu yang paling diam.#rindi sosok pria tangguh dalam hidupku..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biarkan rindu itu berdiam di dalam kalbu...jika bersabar maka suatu saat pemilik bumi dan langit akan menyatukannya...🌹

      Delete