“Nobody can go back and start a new beginning, but anyone can start today and make a new ending.” – Maria Robinson
Sunday, April 17, 2022
It Takes Two to Tango: Bijak
Thursday, March 10, 2022
Sembari
Kata “sembari” tampaknya tidak sering digunakan orang. Mungkin orang lebih akrab dengan “sambil”, “selagi” atau “seraya”. Saya pun sebenarnya hampir-hampir melupakannya. Padahal masih ada lagi satu kata yang kurang lebih senapas dengan empat kata yang saya sebutkan sebelumnya, yaitu “senyampang”.
Kisah “sembari” ini berawal dari seorang sejawat, seorang pakar Bahasa Indonesia. Ia memperkenalkan sahabat barunya yang bernama Sembari. Menurut sejawat saya ini, Sembari menjadi begitu dekat dengannya semenjak masa pandemi ini karena banyak pekerjaan yang semula dilakukan di berbagai tempat, kini menjadi di satu tempat saja, yaitu di rumah. Maka muncullah sang Sembari. “Sembari” senantiasa menemani di sela-sela kegiatan profesionalnya. “Mengikuti rapat sembari menyiapkan makan siang”, “Mendengarkan diskusi sembari menerima pesanan kopi” dan banyak lagi yang menggambarkan sejawat saya melakukan suatu pekerjaan dan disela dengan pekerjaan lainnya.
Semenjak sejawat saya memperkenalkan sahabat barunya “Sembari” itu, saya menjadi rajin berselancar mencari keberadaan sembari dalam ragam tulisan yang mungkin saja tersebar di dunia maya. Rupanya tidak banyak, kecuali dalam beberapa karya sastra atau digunakan dalam ragam percakapan.
Entah mengapa saya merasa sembari memiliki makna kedalaman yang sedikit berbeda dari kelompok segatra dengannya. Bayangkan saja, “sembari” digunakan dalam karya sastra yang indah tetapi juga dalam ragam percakapan. Tampaknya "sembari" menyiratkan “emosi”, keadaan batin atau sikap sang pencerita terhadap pokok permasalahan atau obyeknya yang menggambarkan keharusan untuk melakukan beberapa pekerjaan dalam waktu yang bersamaan.
Di masa serba cepat seperti ini, mengerjakan beberapa
pekerjaan dalam satu waktu secara bersamaan memang tidak bisa dihindari. Anda
tak mungkin fokus hanya pada satu hal karena “satu hal” tersebut sesungguh juga
“dikerubuti” oleh hal lain yang mendukung keberhasilan fokus pekerjaan Anda. Oleh karena itu "sambil", seraya", "selagi", "senyampang" atau "sembari" akan kerap kali muncul.
Setelah lelah berselancar, akhirnya saya temukan juga si Sembari di sebuah berita
online dengan tajuk “Anehnya, Sembari Invasi, Putin Klaim
Juga Kirim 10.500 Ton Bantuan Kemanusiaan ke Warga Ukraina!” https://video.tribunnews.com/view/338465/sembari-invasi-rusia-kirim-10500-ton-bantuan-logistik-ke-ukraina-ini-penjelasan-kepala-pertahanan
Rupanya Vladímir Vladímirovich Pútin, Presiden Rusia, yang sekarang menjadi sangat terkenal itu pun mengklaim “sembari” invasi, Ia mengirim bantuan kemanusiaan untuk warga sipil Ukraina.
Akhirnya, sembari mengetik saya
berpikir-pikir ternyata orang segarang
Putin tetap memiliki rasa kemanusiaan. Kemudian, sembari meneguk kopi, saya membayangkan bisa berbincang-bincang dengan Putin agar menghentikan peperangan...
Terima kasih
untuk
Ibu Santi Mardikarno
Thursday, January 20, 2022
Guru: antara Ada dan Tiada
Ia, antara ada dan tiada. Apalagi di zaman yang sekali “klik” Anda bisa mendapat informasi apapun yang dibutuhkan. Bahkan kerap kali orang bisa mendapat “bonus” informasi yang bisa bermanfaat atau bisa juga tidak. Kemudahan mendapat informasi secara “instan”, secepat kilat dan tidak mengenal waktu membuat orang memandang bisa menjadi guru untuk dirinya sendiri.
Hidup ini jelas tidak hanya melulu persoalan ilmu, pengetahuan, teknologi dan berbagai informasi tetapi juga memerlukan pengetahuan seputar pesoalan hidup dan kehidupan. Ternyata pengetahuan seputar persoalan hidup dan kehidupan ini memiliki tingkat kesulitan yang jauh tinggi dibandingkan “sekadar” Iptek.
Jika Anda memandang bahwa dunia ini hanya persinggahan maka saya yakin kita memerlukan guru, pembimbing, mursyid atau apapun istilahnya untuk menandai seorang yang berpengetahuan, memberi tunjuk-ajar dalam hidup ini. Ia harus sosok yang bukan hanya mampu memindahkan ilmu pengetahuan kepada muridnya, karena itu “persoalan kecil”, tapi Ia juga harus mampu menebarkan semangat kebaikan dan menanamkan tata nilai yang positif. Bagian inilah yang tidak mudah dan tak mungkin dilakukan secara instan karena manusia bukan patung yang bisa diwarnai sesuai selera.
Maka jelas bahwa guru dibutuhkan untuk meningkatkan peradaban manusia di bumi dan langit. Apalagi dalam tingkat satuan pendidikan menengah ke bawah, guru memiliki peran maha penting. Di seputaran usia itulah, sosok yang disebut dengan guru akan memberi warna di sebagian hidup manusia. Guru bukan hanya melengkapi manusia dengan pengetahuan bahwa 1 + 1 = 2, jumlah benua di dunia, hukum Archimides Fa = p.g.V, atau hukum Kekekalan Massa,tetapi guru harus mampu memberi keteladanan dan perubahan baik bagi murid-muridnya serta mampu "menghidupkan hati" para murid. Tentu saja tidak mudah mengukur hasil "didikan" para guru karena membutuhkan pencarian yang panjang untuk menjadi panglima di jagat raya.
Di masa yang serba
cepat, canggih dan gaya hidup hedonisme begitu merajalela menjadi tidak
mungkin "meniadakan" guru. Guru menjadi salah satu kunci pembuka
peradaban dunia dan yang harus mewarisi sikap luhur. Mesin pencari berbasis internet tidak bisa "menghangatkan" jiwa anak manusia, mesin pencari pun tak mampu "mendinginkan" emosi jiwa yang bergejolak. Guru tidak harus super pintar seperti mesin pencari yang tahu segala hal. Tapi harus punya hati karena mesin pencari tidak punya hati.
Tuntutan terhadap guru menjulang setinggi langit. Padahal guru hanya manusia biasa yang rasa hatinya bisa terjungkal-balik karena harus menghadapi “urusannya sendiri”. Itulah hebatnya guru.
Wallahu a'lam bish-shawabi
Thanks to Bro Syam
Friday, January 7, 2022
Hakikat "Aku"
Aku adalah kata ganti orang pertama atau pronomina yang merujuk kepada diri sendiri. Aku bersinonimi dengan "saya", "hamba", "beta", atau bahkan “gue”. Meskipun pronomina tersebut bersinonimi tetapi makna kedalamannya tidak selalu bersenyawa karena penggunaannya sangat kontekstual, tergantung kepada kesepahaman konteks, siapa penutur, siapa petutur dan berbagai hal lain yang berkaitan.
Jika ditelisik lebih dalam, Aku tidak “hanya” mewakili diri sendiri, tubuh, badan atau rujukan fisik seperti “milikku”, “mobilku”, “pendapatku”, “Aku rajin”, “Aku makan”. Contoh frasa tersebut menggambarkan bahwa Aku bergerak di wilayah “menyamakan diri” antara Aku dengan kata yang mengikuti atau diikutinya.
Lebih jauh lagi, Aku juga mewakili pikiran, gambaran diri dan bersifat rohaniah, tidak kasat mata. Oleh karena itu antara tubuh, badan atau rujukan fisik dengan Aku tidak selalu bersatu, bersama sehati sejiwa karena Aku jiwa, bukan raga.
Maka jika “milik aku” “gagasan aku” diambil paksa Aku akan marah, kecewa dan sedih. Tapi Aku tidak akan mampu mengidentifikasikan bagian mana pada tubuh yang terkena amarah atau kesedihan.
Kadang Aku merujuk jauh dari daya jangkauan manusia yang masih berada dalam lingkup dunia materi. Aku mampu menuju dunia imateri. Jika Aku berada di dunia imateri maka Aku akan mencakupi kemampuan pemilik semesta alam raya untuk menyatakan keterwakilannya dari sekadar tubuh atau fisik.
Menurut para cendikia, Aku
dilekatkan kepada tubuh manusia untuk menjalani hidup di dunia yang fana ini. Aku
juga diberi nafsu. Antara Aku dan tubuh akan saling menaklukan. Jika Aku
dikalahkan oleh tubuh maka lahirlah "keakuan" atau ego yang kerap memunculkan nafsu durjana dan angkara murka. Tentu saja bukan hal yang mudah meninggalkan "keakuan", terutama bagi pemuja aliran empirisme-materialistik.
Jika Aku bisa mengalahkan tubuh atau lahiriah maka perjalanan mengenali jati diri dan hakikat kemanusian akan bisa dilanjutkan menuju tujuan utama hakikat Aku. Maka terbanglah ke langit untuk melakukan pengembaraan menuju Sang Maha.
Wallahu a'lam bish-shawabi
Friday, November 5, 2021
Tuhan: dalam Renunganku
Dalam pandangan saya yang miskin spritualitas, makhluk bumi tidak memiliki kesepahaman mengenai konsep ketuhanan, beragam. Jika saya tidak salah, konsep Tuhan dalam agama-agama samawi yang monoteistis saja “agak” berbeda. Apalagi agama di luar itu. Walaupun tujuan akhirnya, mungkin, kurang lebih sama tetapi cara mencapainya berbeda, maka jadilah sesuatu yang berbeda.
Saya percaya bahwa wujud sejati Tuhan itu satu. Yaitu Tuhan pemilik bumi dan langit. Tetapi kehadiranNya ada di berbagai penjuru karena Ia tak berbatas. Oleh karena itu kita dapat menyebutnya Tuhan bersifat abstrak dan universal.
Karena Tuhan itu tak kasat maka menjadi persoalan bagi sebagian orang untuk mengakui keberadaanNya. Apalagi jika hanya bertumpu kepada nalar, logika dan ilmu pengetahuan maka dipastikan akan kesulitan menerima keberadaan Tuhan.
MenemukanNya memang tidak bisa dihasilkan hanya dari dapur akal. Sentuhan batin dan nurani memiliki peran besar untuk menemukan keberadaanNya.
“Pencarian” Tuhan sebenarnya sudah dibahas sejak lama, misalnya, Plato (427-347 SM) yang mengatakan alam semesta dikuasai oleh dua Tuhan yang berbeda yaitu, Tuhan yang niscaya atau kebaikan dan Tuhan sebagai pencipta (kontijensi atau demiurge). Gagasan Plato diikuti pula oleh muridnya, Aristoteles dan para filosof lainnya yang juga membahas tentang Tuhan. Tapi saat ini saya tidak ingin membahas kisah “para pencari tuhan” kelas dunia dengan beragam teori yang pada akhirnya sebagian menyakini bahwa Tuhan itu ada, sedangkan yang lainnya menafikan.
Tuhan itu ada bukan hanya karena keberadaan benda di alam raya ini memerlukan pencipta dan yang mengaturnya saja tetapi kebesaran samudera cinta, cinta kepada siapapun atau apapun juga, membuktikan bahwa Tuhan "mengatur" rasa dan batin manusia. Sejauh yang saya ketahui, belum ada rekayasa teknologi yang mampu melengkapi temuannya dengan “rasa” seperti cinta, sedih, marah atau benci. Perasaan semacam itu jelas dapat dirasakan walaupun tidak berwujud.
Tuhan bersifat personal, Tuhan bisa “jauh” karena tidak tergapai oleh indra (transenden). Tapi Tuhan bisa pula terasa “sangat dekat”, di dalam hati manusia (imanen) seperti cinta.
Karena akal manusia terbatas maka tak perlu memaksa menalarkan diri, cukup melihat dan teruslah menelusuri kedalaman hati.
Bagi saya, Ia, ada di sana, di dalam relung hati sanubari.
Wallahu a'lam bish-shawabi
Thursday, September 30, 2021
Sebut Ia Senior...
Banyak orang keberatan disebut tua atau sepuh. Menurut para cendikia kata tua atau sepuh secara psikologis berdampak, mempengaruhi dan menurunkan semangat. Mungkin karena kata “tua”, “sepuh” berasosiasi kepada kerentaan dan ketidakberdayaan yang tanpa disadari akan membuat orang merasa “kehilangan” kekuatan dan kedigdayaan.
Apakah dengan demikian kata tua atau sepuh harus diganti dengan kata lain, misalnya “senior”.
Dari sudut pandang semantik antara kata tua dan sepuh dengan senior memang berbeda. Lema tua dan sepuh memiliki banyak makna dalam berbagai kelas kata tetapi sebagian besar memiliki relasi makna dengan ketidakberdayaan, usang, kuno, uzur, renta dan makna lainnya yang selaras dengan itu. Sedangkan lema senior bukan hanya berarti tua tetapi juga mencakup bermutu, berpengalaman dan berpengetahuan.
Jadi tidak heran jika penggunaan kata senior lebih dipilih dibandingkan dengan tua, sepuh atau bahkan “lanjut usia”. Coba bandingkan rasa yang timbul antara “lansia”, “manula” atau “masyarakat senior”.
Apapun juga rasa yang timbul akibat penyebutan tua, sepuh, senior atau lainnya, jika ada, itu diakibatkan bagaimana seseorang “menafsirkan” kata-kata tersebut ke dalam benak.
Jika Anda menganggap bahwa tafsir
kata-kata tersebut merupakan ”privilage” masing-masing dan tidak
terganggu secara psikologis dengan makna tua, sepuh, senior maka ini meringankan langkah…. Artinya jika Anda menyebut diri Anda "sudah tua" tidak bermakna bahwa semua "sudah berakhir" dan tidak berarti pula bahwa usia tua hanya berkhayal tentang keberhasilan masa lampau yang konon membuat orang menjadi bersedih hati. Bukankah muda dan tua itu hanya sebuah proses dalam hidup yang akan dilalui semua manusia...?
Tapi bukan berarti kita menjadi
bebas menyebut orang dengan tua, sepuh atau manula karena bisa jadi orang
sangat terdampak dengan sebutan tersebut.
Dalam upaya membahagiakan orang dan diri kita sendiri, mari kita sebut saja dengan senior agar semua bahagia. Menurut para pakar kesenangan, kebahagian, tertawa lepas akan menghasilkan hormon Endorphin sehingga membuat orang menjadi lebih kuat terhadap penyakit, lebih kelihatan awet muda dan bersemangat.
Jika demikian, sebut Ia Senior…
![]() |
| I may be a Senior, but so what...? |
Friday, September 3, 2021
Berapa Hasta Jarakku denganNya
Jarak memang nisbi. Perhitungan jarak antara satu tempat ke tempat lain sudah diketahui secara umum, bahkan diajarkan di sekolah. Jika Anda dilahirkan pada tahun-tahun sebelum tahun 1970 pasti ingat mata pelajaran yang membahas jarak, misalnya jarak Jakarta – Bogor 60 km, Jakarta – Bandung 120 Km dan seterusnya.
Ternyata jarak tetap saja berbeda dalam tafsir tiap orang, meskipun perhitungan jarak sudah sangat jelas dan ditetapkan berdasarkan angka yang terukur, tidak kwalitatif... Rupanya jarak tidak mampu membuat manusia merasa jauh dari apa pun yang “berjarak” dan juga tidak mampu membuat manusia merasa dekat meskipun sudah di depan mata.
Bayangkan saja bagaimana manusia bisa merasakan dekatnya “Ia”. Padahal, jika mungkin, berapa hasta yang harus ditempuh untuk sampai kepadaNya. Tak akan bisa manusia menghitung berapa jarak antara bumi dan singgasanaNya dengan rumus apapun juga.
Untuk merasa dekat, manusia bukan hanya membutuhkan olah nalar “knowledge”, tetapi juga olah hati (batin) dengan memanfaatkan “divine knowledge”. Rasa dekat tersebut memang tidak bisa serta merta dirasakan oleh makhluk bumi jika tidak memadukan dua “knowledge” tersebut, nalar dan hati. Nalar atau akal dan hati sejatinya memiliki sifat halus dan lembut. Nalar terbatas hanya pada perkara pengetahuan dan “kepandaian”. Sedangkan hati atau batin juga menerima kebenaran namun dalam urusan spritual dan mampu menjangkau alam metafisik dengan dukungan nalar.
Pengetahuan (baca: nalar) dan
rekayasa pendidikan atau kultur tidak mampu
menuntun manusia untuk memuliakan
dan menjaga kesucian hatinya. Justru “pemaksaan” nalar membuat
jarak yang sesungguhnya dekat menjadi jauh. Sedangkan hasil olah batin mampu menghaluskan rasa sehingga mendekatkan jarak yang "berhasta-hasta".
Jarak didefinisikan beragam. Secara geografis jarak adalah ruang yang menghubungkan antara dua lokasi atau dua objek. Dalam definisi lain yang lebih filosofis jarak dianggap sebagai konsep terkait posisi manusia yang berada di ruang dan waktu. Artinya di setiap penggal waktu merupakan proses hidup manusia yang harus dilalui hingga sampai jarak tertentu sebagai tujuan.
Oleh karenanya berapa hasta pun jarak antara satu tujuan ke tujuan lain tidak akan berarti apa-apa karena “tujuan” yang hendak dicapai berarti segalanya.
Jika demikian jelas bahwa kenisbian jarak ditentukan oleh tujuan. Kombinasi antara akal dan batin membawa manusia kepada tafsir jarak sesuai kebutuhannya.
Wallahu a'lam bish-shawabi
Thursday, July 29, 2021
Tafsir
Tafsir atau yang lebih popular disebut intepretasi tidak pernah mengenal “baik” atau “buruk” karena ia bergantung kepada pengalaman, pengetahuan dan apa yang tersimpan dalam benak. Oleh karena itu tafsir kerap kali dipandang sebagai “free will”.
Karena tafsir bersifat individual, maka tidak heran jika orang “bebas merdeka” menafsirkan apa yang dilihat, didengar atau dibacanya. Penafsiran akan sangat bergantung kepada bagaimana seseorang “menata” mata batin, mata hati dan akal-budinya.
Yang paling menjadi masalah jika penafsiran ditumpangi oleh ”kepentingan” tertentu, atau bahkan “pesanan”. Model penafsiran semacam ini tentu tidak bisa dipandang “benar” karena merupakan penafsiran palsu, tidak jujur dan mungkin “berbayar”. Apalagi jika dilengkapi dengan penyebarluasan penafsiran tanpa dibekali “pengetahuan” yang memadai.
Sejatinya yang harus dipertimbangkan bukan dalam proses
penafsiran tetapi pada saat menyampaikannya kepada khalayak agar pada waktu
yang bersamaan tidak melanggar hak orang lain.
Karena pikiran orang per orang berbeda, maka dalam memahami karya-karya besar diperlukan pendekatan hermeneutika atau takwil dalam tradisi Islam untuk menjembatani maknanya. Hal ini diperlukan agar orang, setidaknya, memiliki tafsiran yang tidak terlalu melebar. Selain itu, ujaran atau tulisan tidak tercemari oleh pandangan orang yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dari yang sebenarnya diharapkan.
Walaupun tidak sama persis dengan menafsirkan karya monumental, dalam kehidupan sehari-hari, ”hermeneutika praktis” tetap diterapkan dalam memaknai ujaran atau tulisan (baca: tanda bahasa). Setidaknya dalam menafsirkan harus ada pemahaman aspek linguistik (sadar atau tidak sadar) dan kesamaaan pengertian dasar “basic understanding” tentang makna.
Tapi jika ingin menghasilkan “tafsir baik”, menurut kaum bijak, penafsir harus berlatih memainkan mata batin dan tidak berupaya memanipulasinya atas nama hak individu atau melakukan pengecohan akal.
Kelurusan mata batin memang tidak dengan serta merta melekat pada diri makhluk bumi. Tetapi harus diasah agar menjadi makhluk bumi yang memiliki kematangan spiritual dan mampu membuang jauh-jauh kesombongan spritual.
Tafsir memang memang sulit diakali dan tidak mudah diubah kecuali dengan keluasan dan kehalusan rasa.
Wallahu a'lam bish-shawabi
Tuesday, June 22, 2021
Cinta
Mendengar kata cinta, mungkin sebagian besar orang berasosiasi kepada persoalan “pasangan”. Padahal cinta itu maha luas, maha dahsyat dan maha sulit untuk disempitkan maknanya dengan sebuah definisi.
Sejatinya semua kalimat yang memuat kata dasar cinta didalamnya menyiratkan keindahan, kenyamanan, kebahagian, kerinduan dan bersamaan dengan itu mungkin ada pula “kepedihan”. Ini bukan berarti saya budak cinta “bucin”, begitu istilah kekiniannya. Tapi jelas manusia tidak bisa hidup tanpa cinta karena cinta itu luas, seluas samudra, menaungi beragam sendi kehidupan makhluk bumi.
Jika saja pemilik jagat raya tidak memberi “indra” perasa cinta, tak pernah terbayang bagaimana manusia hidup di dunia ini. Bisa saja tingkat perundungan menjadi sangat tinggi, ujaran kebencian merajalela, bahkan mungkin saja terjadi perang dunia, entah keberapa, atas nama pembelaan keyakinan diri tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain.
Tampaknya benar yang paling sulit “dijinakkan” untuk memandang atau mengakui bahwa “kita sama” dan memelihara baik sangka serta berpraduga bahwa semua orang baik adalah kepongahan diri.
Tanpa disadari, makhluk bumi kerap kali menyekat pandangannya dengan strata duniawi dan lupa membuka mata nuraninya. Bahkan sampai melupakan bahwa Sang Khalik telah memberi anugerah cinta.
Bukan hal yang aneh jika manusia kesulitan menyikapi beragam perbedaan karena “pembenaran” versi individu atau kelompok itu dibangun atas pandangan yang kerap emosional dan bersifat psikologis. Bisa jadi pandangan tersebut didoktrin bertahun lamanya hingga begitu melekat, sudah “memfosil.” Maka tertutuplah sudah pintu tolerasi dan keberagaman serta hal lain di luar “dirinya” atau “kelompoknya”.
Tentu saja tidak mudah untuk “memahami” jika semua dipandang bertolak belakang dan beroposisi. Bahkan hanya sekadar menghargai pilihan orang yang berbeda dari dirinya menjadi tidak mungkin. Apalagi jika harus mencintai kelompok yang berbeda sebagai sesama makhluk bumi.
Untuk mampu menghargai meskipun berbeda, manusia jelas memerlukan pra-anggapan bahwa semua makluk bumi sejatinya setara. Setelah itu barulah “cinta” dapat mengalir dalam hati manusia.
Seorang sahabat mengatakan bahwa “Mencintai adalah melihat ke arah yang sama...”. Melihat ke arah yang sama saja belum tentu menghasilkan pandangan atau pikiran yang sama karena pengalaman batin dan hidup manusia tidak seragam. Tapi setidaknya ada upaya untuk ke satu arah agar bisa bergandeng tangan. Jika sebagian orang melihat ke muka dan sebagian lagi menoleh ke belakang, niscaya tidak mungkin mencapai tujuan yang sama.
Rupanya harus ada pelajaran “sufistik” yang disisipkan ke dalam kurikulum pendidikan agar bisa memperhalus rasa, menerima perbedaan tanpa marah dan memuliakan hidup serta mampu tidak hanya mengasah otak tetapi juga mengasah batin. Wallahu a'lam bish-shawabi
Thanks to Bro Syam

