Introduction

Thursday, September 30, 2021

Sebut Ia Senior...

 

Banyak orang keberatan disebut tua atau sepuh. Menurut para cendikia kata tua atau sepuh secara psikologis berdampak, mempengaruhi dan menurunkan semangat. Mungkin karena kata “tua”, “sepuh” berasosiasi kepada kerentaan dan ketidakberdayaan yang tanpa disadari akan membuat orang merasa “kehilangan” kekuatan dan kedigdayaan. 

 

Apakah dengan demikian kata tua atau sepuh harus diganti dengan kata lain, misalnya “senior”.

 

Dari sudut pandang semantik antara kata tua dan sepuh dengan senior memang berbeda. Lema tua dan sepuh memiliki banyak makna dalam berbagai kelas kata tetapi sebagian besar memiliki relasi makna dengan ketidakberdayaan, usang, kuno, uzur, renta dan makna lainnya yang selaras dengan itu. Sedangkan lema senior bukan hanya berarti tua tetapi juga mencakup bermutu, berpengalaman dan berpengetahuan.

 

Jadi tidak heran jika penggunaan kata senior lebih dipilih dibandingkan dengan tua, sepuh atau bahkan “lanjut usia”. Coba bandingkan rasa yang timbul antara “lansia”, “manula” atau “masyarakat senior”.

 

Apapun juga rasa yang timbul akibat penyebutan tua, sepuh, senior atau lainnya, jika ada, itu diakibatkan bagaimana seseorang “menafsirkan” kata-kata tersebut ke dalam benak.

 

Jika Anda menganggap bahwa tafsir kata-kata tersebut merupakan ”privilage” masing-masing dan tidak terganggu secara psikologis dengan makna tua, sepuh, senior maka ini meringankan langkah…. Artinya jika Anda menyebut diri Anda "sudah tua" tidak bermakna bahwa semua "sudah berakhir" dan tidak berarti pula bahwa usia tua hanya berkhayal tentang keberhasilan masa lampau yang konon membuat orang menjadi bersedih hati. Bukankah muda dan tua itu hanya sebuah proses dalam hidup yang akan dilalui semua manusia...?

 

Tapi bukan berarti kita menjadi bebas menyebut orang dengan tua, sepuh atau manula karena bisa jadi orang sangat terdampak dengan sebutan tersebut.

 

Dalam upaya membahagiakan orang dan diri kita sendiri, mari kita sebut saja dengan senior agar semua bahagia. Menurut para pakar kesenangan, kebahagian, tertawa lepas  akan menghasilkan hormon Endorphin sehingga membuat orang menjadi lebih kuat terhadap penyakit, lebih kelihatan awet muda dan bersemangat.

 

Jika demikian, sebut Ia Senior…

 

I may be a Senior, but so what...?

 

Friday, September 3, 2021

Berapa Hasta Jarakku denganNya

 

Jarak memang nisbi. Perhitungan jarak antara satu tempat ke tempat lain sudah diketahui secara umum, bahkan diajarkan di sekolah. Jika Anda dilahirkan pada tahun-tahun sebelum tahun 1970 pasti ingat mata pelajaran yang membahas jarak, misalnya jarak Jakarta – Bogor 60 km, Jakarta – Bandung 120 Km dan seterusnya. 

 

Ternyata jarak tetap saja berbeda dalam tafsir tiap orang, meskipun perhitungan jarak sudah sangat jelas dan ditetapkan berdasarkan angka yang terukur, tidak kwalitatif... Rupanya jarak tidak mampu membuat manusia merasa jauh dari apa pun yang “berjarak” dan juga tidak mampu membuat manusia merasa dekat meskipun sudah di depan mata. 

 

Bayangkan saja bagaimana manusia bisa merasakan dekatnya “Ia”. Padahal, jika mungkin, berapa hasta yang harus ditempuh untuk sampai kepadaNya. Tak akan bisa manusia menghitung berapa  jarak antara bumi dan singgasanaNya dengan rumus apapun juga.

 

Untuk merasa dekat, manusia bukan hanya membutuhkan olah nalar “knowledge”, tetapi juga olah hati (batin) dengan memanfaatkan “divine knowledge”. Rasa dekat tersebut memang tidak bisa serta merta dirasakan oleh makhluk bumi jika tidak memadukan dua “knowledge” tersebut, nalar dan hati. Nalar atau akal dan hati sejatinya memiliki sifat halus dan lembut. Nalar terbatas hanya pada perkara pengetahuan dan “kepandaian”. Sedangkan hati atau batin juga menerima kebenaran namun dalam urusan spritual dan mampu menjangkau alam metafisik dengan dukungan nalar.

 

Pengetahuan (baca: nalar) dan rekayasa pendidikan atau kultur tidak mampu menuntun manusia untuk  memuliakan dan menjaga kesucian hatinya. Justru “pemaksaan” nalar   membuat jarak yang sesungguhnya dekat menjadi jauh. Sedangkan hasil olah batin mampu menghaluskan rasa sehingga mendekatkan jarak yang "berhasta-hasta".

 

Jarak didefinisikan beragam. Secara geografis  jarak adalah ruang yang menghubungkan antara dua lokasi atau dua objek. Dalam definisi lain yang lebih filosofis jarak dianggap sebagai konsep terkait posisi manusia yang berada di ruang dan waktu. Artinya di setiap penggal waktu merupakan proses hidup manusia yang harus dilalui hingga sampai jarak tertentu sebagai tujuan.

 

Oleh karenanya berapa hasta pun jarak antara satu tujuan ke tujuan lain tidak akan berarti apa-apa karena “tujuan” yang hendak dicapai berarti segalanya.

 

Jika demikian jelas bahwa kenisbian jarak ditentukan oleh tujuan. Kombinasi antara akal dan batin membawa manusia kepada tafsir jarak sesuai kebutuhannya.

 

Wallahu a'lam bish-shawabi

 


 

Thursday, July 29, 2021

Tafsir

 

Tafsir atau yang lebih popular disebut intepretasi tidak pernah mengenal “baik” atau “buruk” karena ia bergantung kepada pengalaman, pengetahuan dan apa yang tersimpan dalam benak. Oleh karena itu tafsir kerap kali dipandang sebagai “free will”.

 

Karena tafsir bersifat individual, maka tidak heran jika orang “bebas merdeka” menafsirkan apa yang dilihat, didengar atau dibacanya. Penafsiran akan sangat bergantung kepada bagaimana seseorang “menata” mata batin, mata hati dan akal-budinya.

 

Yang paling menjadi masalah jika penafsiran ditumpangi oleh  ”kepentingan” tertentu, atau bahkan “pesanan”. Model penafsiran semacam ini tentu tidak bisa dipandang “benar” karena merupakan penafsiran palsu, tidak jujur dan mungkin “berbayar”. Apalagi jika dilengkapi dengan penyebarluasan penafsiran tanpa dibekali “pengetahuan” yang memadai.

 

Sejatinya yang harus dipertimbangkan bukan dalam proses penafsiran tetapi pada saat menyampaikannya kepada khalayak agar pada waktu yang bersamaan tidak melanggar hak orang lain. 

 

Karena pikiran orang per orang berbeda, maka dalam memahami karya-karya besar diperlukan pendekatan hermeneutika atau takwil dalam tradisi Islam untuk menjembatani maknanya. Hal ini diperlukan agar orang, setidaknya, memiliki tafsiran yang tidak terlalu melebar. Selain itu, ujaran atau tulisan tidak tercemari oleh pandangan orang yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dari yang sebenarnya diharapkan.

 

Walaupun tidak sama persis dengan menafsirkan karya monumental, dalam kehidupan  sehari-hari, ”hermeneutika praktis” tetap diterapkan dalam memaknai ujaran atau tulisan (baca: tanda bahasa). Setidaknya dalam menafsirkan harus ada pemahaman aspek linguistik (sadar atau tidak sadar)  dan kesamaaan pengertian dasar “basic understanding” tentang makna.  


Tapi jika ingin menghasilkan “tafsir baik”, menurut kaum bijak, penafsir harus berlatih memainkan mata batin dan tidak berupaya memanipulasinya atas nama hak individu atau melakukan pengecohan akal.

 

Kelurusan mata batin memang tidak dengan serta merta melekat pada diri makhluk bumi. Tetapi harus diasah agar menjadi makhluk bumi yang memiliki kematangan spiritual dan mampu membuang jauh-jauh kesombongan spritual.


Tafsir memang memang sulit diakali dan tidak mudah diubah kecuali dengan keluasan dan kehalusan rasa.

 
Wallahu a'lam bish-shawabi

 

Illustrated by Water Planet
www.water-planet.co

 

Tuesday, June 22, 2021

Cinta

 

Mendengar kata cinta, mungkin sebagian besar orang berasosiasi kepada persoalan “pasangan”. Padahal cinta itu maha luas, maha dahsyat dan maha sulit untuk disempitkan maknanya dengan sebuah definisi. 

 

Sejatinya semua kalimat yang memuat kata dasar cinta didalamnya menyiratkan keindahan, kenyamanan, kebahagian, kerinduan dan bersamaan dengan itu mungkin ada pula “kepedihan”. Ini bukan berarti saya budak cinta “bucin”, begitu istilah kekiniannya. Tapi jelas manusia tidak bisa hidup tanpa cinta karena cinta itu luas, seluas samudra, menaungi beragam sendi kehidupan makhluk bumi.

 

Jika saja pemilik jagat raya tidak memberi “indra” perasa cinta, tak pernah terbayang bagaimana manusia hidup di dunia ini. Bisa saja  tingkat perundungan menjadi sangat tinggi, ujaran kebencian merajalela, bahkan mungkin saja terjadi perang dunia, entah keberapa, atas nama pembelaan keyakinan diri tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain. 

 

Tampaknya benar yang paling sulit “dijinakkan” untuk memandang atau mengakui bahwa “kita sama” dan memelihara baik sangka serta berpraduga bahwa semua orang baik adalah kepongahan diri. 

 

Tanpa disadari, makhluk bumi kerap kali menyekat pandangannya dengan strata duniawi dan lupa membuka mata nuraninya. Bahkan sampai melupakan bahwa Sang Khalik telah memberi anugerah cinta.

 

Bukan hal yang aneh jika manusia kesulitan menyikapi beragam perbedaan karena “pembenaran” versi individu atau kelompok itu dibangun atas pandangan yang kerap emosional dan bersifat psikologis. Bisa jadi pandangan tersebut didoktrin bertahun lamanya hingga begitu melekat, sudah “memfosil.”  Maka tertutuplah sudah pintu tolerasi dan keberagaman serta hal lain di luar “dirinya” atau “kelompoknya”.

 

Tentu saja tidak mudah untuk “memahami” jika semua dipandang bertolak belakang dan beroposisi. Bahkan hanya sekadar menghargai pilihan orang yang berbeda dari dirinya menjadi tidak mungkin. Apalagi jika harus mencintai kelompok yang berbeda sebagai sesama makhluk bumi.

 

Untuk mampu menghargai meskipun berbeda, manusia jelas memerlukan pra-anggapan bahwa semua makluk bumi sejatinya setara.  Setelah itu barulah “cinta” dapat mengalir dalam hati manusia. 

 

Seorang sahabat mengatakan bahwa “Mencintai adalah melihat ke arah yang sama...”. Melihat ke arah yang sama saja belum tentu menghasilkan pandangan atau pikiran yang sama karena pengalaman batin dan hidup manusia tidak seragam. Tapi setidaknya ada upaya untuk ke satu arah agar bisa bergandeng tangan. Jika sebagian orang melihat ke muka dan sebagian lagi menoleh ke belakang, niscaya tidak mungkin mencapai tujuan yang sama.

 

Rupanya harus ada pelajaran “sufistik” yang disisipkan ke dalam kurikulum pendidikan agar bisa memperhalus rasa, menerima perbedaan tanpa marah dan memuliakan hidup serta mampu tidak hanya mengasah otak tetapi juga mengasah batin. Wallahu a'lam bish-shawabi

 

                           

                                                                                                                                                      Thanks to Bro Syam

Thursday, May 20, 2021

Haruskah Belajar Sejarah?

 

Suatu kali saya mendengar ”perdebatan” dalam sebuah diskusi yang berkaitan dengan pengetahuan sejarah yang diharapkan dimiliki oleh kaum milenial. Perdebatan ini sebenarnya dipicu oleh beredarnya tayangan di jejaring sosial yang menggambarkan kegagalan respondennya mengenali foto para pahlawan dan tokoh penting dalam membangun sejarah bangsa di Republik ini. Yang lebih mengejutkan, para responden ternyata mengenali wajah dan nama para influencer penjual mimpi yang menurut pandangan saya mengajarkan gaya hidup hedonis “dunia materialistik”. (baca tautan terkait https://www.kompasiana.com/irnanir/6077c7a58ede487c365b8e62/ceveat-emptor-risiko-ditanggung-pembeli). 

 

Sejarah memang bukan cuma sekadar persoalan pahlawan dan tokoh bangsa karena cakupan sejarah sangat luas. Maka secara singkat sejarah didefinisikan sebagai peristiwa yang telah terjadi pada masa lalu dan dapat diketahui melalui “peninggalan” pada masa peristiwa terjadi. Jadi semua hal yang sudah berlalu dan menjadi bagian dari hidup ini adalah sejarah bagi tiap individu. Mungkin yang membedakan hanya besar kecil gaung atau resonansinya yang berdampak kepada tatanan sosial dan budaya kelompok masyarakat dunia atau lokal, tapi bisa juga hanya diri sendiri. 

 

Oleh karena itu, saya sengaja memberi tanda kutip pada kata peninggalan karena tidak ingin terperangkap pada pernyataan bagaimana jika tidak ada peninggalan masa lalu.

 

Sejatinya semua kisah masa lalu baik yang beresonansi besar maupun yang bersifat personal akan menyisakan “peninggalan." Jika peninggalan itu luar biasa besar, maka akan terasa dalam komunitas besar, misalnya Candi Borobudur, Kemerdekaan Indonesia, kerugian peradaban atau munculnya peradaban baru. Sedangkan yang peninggalan beresonansi kecil, mungkin yang terdampak hanya keluarga atau diri sendiri.

 

Karena setiap manusia hidup pada zamannya masing-masing, maka kerap kali kita merasa kesulitan untuk meminta orang lain memiliki pengetahuan kesejarahan yang sama dengan kita. Apalagi jika para generasi Yold atau Baby Boomers menuntut kelompok milenial untuk memiliki pengetahuan masa lalu yang sama dengan mereka, pasti akan kesulitan. Bukan kaum milenial tidak menghargai sejarah bangsanya atau pahlawannya tetapi  cara mereka menghargai berbeda dengan cara orang tua. 

 

Seorang sahabat saya mengatakan “menurut milenial, mereka harus move-on”. Artinya, tidak perlu berkutat dengan masa lalu apalagi harus mengingat tahun perang Diponegoro, pembentukan BPUPKI atau yang lainnya. Yang menjadi pusat perhatian bagi milenal adalah "mulai masa kini untuk masa mendatang." Oleh karena itu mereka berupaya memajukan dirinya dan itu pasti untuk bangsanya pula.

 

Walaupun ini bukan hasil riset, saya ingin membuat simpulan sementara  bahwa sesungguhnya kaum milenial sadar bahwa mereka menjadi besar atas upaya para pahlawan dan mereka tidak sedang berupaya menghapus fakta sejarah.

 

Zaman memang sudah berubah, tak bisa lagi kita menuntut sesuatu yang sama seperti masa-masa muda para Senior, menghapal tahun-tahun peperangan, nama-nama pahlawan, nama-nama menteri. Hal-hal yang dulu harus dihapalkan akan mudah didapat dengan berselancar, sekali “klik” data yang dibutuhkan akan terpampang di hadapan mata.

 

Pelajaran sejarah tidak lagi begitu menarik hati bagi banyak kaum muda, mungkin salah satu penyebabnya ancangan yang digunakan tidak “kekinian”. Karena pengetahuan sejarah itu maha penting dalam rangka membentuk karakter bangsa  perlu dipikirkan “kemasan” yang menarik agar sesuatu yang sangat luar biasa (baca: sejarah) sampai ke sasaran dengan penerimaan yang sangat luar biasa pula. 

 

Jika demikian, mari kita titipkan terutama kepada Kemendikbud, para cendikia, para pakar pendidikan, para guru untuk meramu ancangan yang sangkil dan mangkus karena sejarah  adalah cahaya kebenaran, saksi waktu, guru kehidupan, historia magistra vitae (Cicero, Marcus Tullius: 1860).

 

Wallahu a'lam bish-shawabi

 

                                                                                                     Special Thanks to Yeni

Wednesday, May 12, 2021

Happy Eid Mubarak 1442 Hijriah

 

 

  Please Click👇👇👇

https://thr.kompasiana.com/irnanir/6099fee78ede48254b1fd922/rindu-doa-akhir-ramadhan 

 

Illustrated by Water Planet
www.water-planet.co

Dear All,

I might not be there with you today, but you are always there in my prayers. May Allah bring peace and happiness to you. From depth of my heart, with this special pray, that your Eid be filled with pleasures, smiles, colors, love, sympathies, good feelings, joys, and peace… May peace and blessings of Almighty Allah be with you and your family.

A very happy Eid Mubarak to you 
1 Syawal 1442 Hijriah

Thursday, April 22, 2021

Jadikan Aku Kekasih-Mu

(Surat cinta untuk Sang Pemilik Bumi dan langit)

 

 

Cintaku,

Maafkan aku, jika hidup membawa diri ini sampai kepada titik yang paling rendah, ke dasar bumi. Sungguh tak pernah kubayangkan khayal dan mimpi menjerat hidup.

Gemerlap dunia membawaku hanya menjadi penyembah formalitas.

 

Cintaku,

Maafkan aku, jika perjalanan panjang mencari cinta kasih kupandang sebagai kegagalan hanya karena aku selalu menalarkan dan mendefinisikan makna cinta. Padahal cinta itu tak berbatas dan tidak mungkin didefinisikan. Ternyata akalku tidak mampu mencerna makna cinta.

 

Cintaku,

Maafkan aku, jika aku lupa bahwa alam semesta itu sirna. Yang kekal hanyalah bersama-Mu

 

Cintaku,

Maafkan aku, jika aku tak pernah menyadari cinta-Mu begitu dalam terhadapku, bahkan aku pergi menjauh, menenggelamkan diri berlari ke fatamorgana, meninggalkan-Mu, jauh di penghujung. Engkau semakin jauh dariku, tak terjangkau batinku.
Maafkan aku, jika aku selalu mencoba menempatkan cinta dalam sebuah wadah. Padahal aku tak punya wadah yang cukup  untuk memuat cinta yang begitu melimpah.

 

Cintaku,

Maafkan aku,jika aku terlambat menyadari cinta kasih-Mu. Hanya Engkaulah yang mampu menggoreskan keindahan pada batinku. Sekarang aku berharap Engkau kembali setelah aku menjadi hitam kelam.

 

Cintaku,

Maafkan, jika hamba-Mu yang lemah berharap kepada-Mu

Maafkan, jika hamba-Mu  yang tak pantas ini memohon kasih-Mu

Maafkan, jika hamba-Mu memohon untuk selalu ada dalam dekapan cinta-Mu.

Maafkan, jika hamba-Mu bertanya jalan manakah yang mampu membuatku berada di dekat-Mu

Maafkan, jika hamba memohon ampunan-Mu yang tak berujung

Maafkan, jika hamba memohon agar Engkau selalu hadir di setiap doaku

Maafkan, jika hamba memohon Engkau ada di setiap tarikan napasku

Maafkan, jika hamba akan mencari-Mu sampai dengan hembusan napasku yang terakhir

Maafkan, jika hamba memohon kepada-Mu untuk membuka tabir-Mu

Yaa Rabbi... Jadikan Aku Kekasih-Mu

Yaa Rabii... Terangkan batinku

Yaa Rabbi... Bukankan pintu hatiku

Yaa Rabbi... bukalah pintu-pintu langit-Mu. Sambutlah aku

Yaa Rabii... Jadikan aku kekasih-Mu


                          
                            10 Ramadhan 1442 Hijriah 

                          Dari : Hamba-Mu

                          Pecinta yang merindu-MU

 

 

 


Wednesday, March 31, 2021

Label dan Kotak

 

Cerita ini berawal dari perbincangan di WA Grup alumni kami. Seperti layaknya grup alumni isi perbincangan kerap “tak tentu arah”. Maklum saja selepas berpisah secara formal lebih dari tiga puluh lima tahun, tentu banyak yang membuat anggota grup berubah. Ada yang “label”nya sama seperti dahulu kala:  bersemangat, “galak”, ada yang berubah menjadi sangat tenang atau semakin bijak dan tentu ada pula penyimak terbaik. Tapi itu bukan bagian yang penting untuk dikisahkan.

Suatu kali seorang sahabat mengunggah gambar yang menyandingkan dua kelompok orang yang sedang bersepeda. Kelompok pertama diberi label “Orang Kaya” mengenakan topi pengaman “helm”, masker dan perangkat lainnya. Sedangkan kelompok kedua dengan label “Orang Biasa” hanya mengenakan topi caping bukan helm, tanpa masker dan perangkat lain. Caption yang mengiringi unggahan tersebut adalah “Orang Kaya. Lulusan S1, S2, S3” dan “Orang Biasa. Ada yang tidak lulus SD”. Gambar ini diberi tajuk besar "Antara pintar dan akhlak"

Bagi “orang biasa” mungkin, mengayuh sepeda bukan bentuk olah raga kekinian tetapi tak lebih dan tak kurang sebagai alat transportasi menuju tempat tujuan. Tetapi bagi “orang kaya” bersepeda adalah sebuah keriaan bersama teman atau pelepas penat setelah terus menerus berpikir untuk melahirkan gagasan atas nama kehidupan di kota besar.

Dua kelompok pengayuh sepeda menampakkan gaya yang berbeda, “orang kaya” bergerombol sehingga memblokade jalan umum, sedangkan “orang biasa” berbaris panjang ke belakang.

Bagi sebagian orang memblokade jalan yang dilakukan oleh orang yang tidak memiliki kewenangan merupakan kesombongan atau kepongahan. Tetapi bagi yang melakukan, bisa jadi dipandang sebagai “kepatutan” saja atau ada alasan lain yang pasti tidak akan bisa dipahami oleh pihak yang berseberangan. Begitu pula dengan pilihan pengayuh sepeda yang berbaris ke belakang, tidak dapat dengan serta merta disimpulkan berakhlak.

Tanpa disadari manusia memang kerap membuat label yang dilekatkan kepada kelompok masyarakat, sadar atau tidak sadar. “Orang kota sombong”, “orang kota pintar”, “orang berpendidikan tidak beradab”, “orang desa bodoh”, “orang desa berakhlak”, ”orang bodoh jujur”. Label tersebut sebenarnya juga sangat dapat diperdebatkan dan kadang terasa tidak adil.

Oleh karena itu rasanya tidak elok pula jika kita membuat pengkotakan compartmentalization” yang seolah-olah di dunia ini hanya ada hitam putih. Fakta hidup justru menyatakan wilayah abu-abu lebih banyak dihuni. Ini sangat mungkin terjadi akibat kegamangan hidup sehingga  orang tidak tahu harus berposisi dimana, tidak mau berpihak atau mengambil keuntungan. Pada masa “manusia modern” menjadi pemuja sains dan tekhnologi kemungkinan orang berada di wilayah abu-abu menjadi sangat tinggi dan bahkan Ia pun tidak sadar berada di wilayah tersebut.

Pengkotakan memang sulit dihindari mengingat cara pandang manusia dibangun atas dasar sifat-sifat dominan dalam hidupnya, pengalaman hidup dan tata nilai yang melekat. Namun demikian pengkotakan yang tajam disertai “pelabelan” akan menyempitkan pandangan ruang kehidupan seseorang dan menyulitkan manusia untuk menembus batas-batas sosial budaya. Bukankah pikiran manusia bisa mengubah sekitarnya…?

Karena manusia bukan komoditi yang akan dijual-belikan maka  tak perlu diberi kotak dan label. Jadi, mari mencoba menggunakan mata hati dan "meminjam" mata Wali untuk memahami cara orang lain. Melihara baik sangka dan  membuat asumsi bahwa semua manusia baik budi sesuai dengan fitrahnya akan memudahkan sayap mengepak mencapai langit.   Wallahu a'lam bish-shawabi.

 

                     Special Thanks to Syam, Bro Isma and Ika

Wednesday, January 6, 2021

Hidup itu Berjuang

 

Halo Junior… 

 

Akhirnya sampai juga pada tahun pertama di awal dekade baru, 2021. Tahun penutup dekade ini memang tidak ringan untuk dijalani. Serangan yang melanda hampir di seluruh dunia membuat banyak pergeseran cara pandang manusia. Sebenarnya, pergeseran ini ada pula yang bergerak ke arah positif, misalnya kesadaran akan kebersihan meningkat, mengenal dunia digital lebih dalam. Sedangkan negatifnya tentu lebih banyak. Tapi mari kita syukuri saja agar menjadi lebih mudah melangkah.

 

Bagaimana pun beratnya, manusia harus terus berjuang untuk meraih impiannya karena tidak ada keberhasilan yang datang menghampiri tanpa perjuangan. Tidak perlu terlalu banyak mengeluh karena akan melemahkan semangat dan jiwa. 

 

Yakinlah bahwa keberhasilan itu milik semua orang dan tidak memandang kasta, tentu sepanjang Anda berjuang. Maka mulailah tetapkan langkah untuk menjadi bagian orang yang berhasil. Jika impian berhasil saja tidak masuk dalam daftar hidup Anda, besar kemungkinan keberhasilan tidak akan menyambangi Anda. Kecuali kesuksesan itu sedang “tersesat jalan” dan itu tingkat kemungkinannya sangat rendah.

 

Langkah awal untuk berhasil atau sukses adalah memiliki “paket” yang memuat satu kesatuan  utuh yaitu tekad dan daya juang. Paket itu pun harus diperjuangkan dan ditanamkan dalam benak bahwa ujung kisah Anda adalah berhasil.Untuk mempermudah pencapaian buatlah langkah tahapan-tahapan “milestones” yang di akhir tiap langkah memuat tujuan yang diharapkan  “expected goals”. Jika gagal, ulangi lagi sambil memeriksa penyebab kegagalannya sampai pada akhirnya Anda tahu jalan terbaik bagi Anda. Jika Anda cukup rajin dan memiliki daya juang tinggi, semesta pasti tidak akan tega membiarkan Anda gagal terus menerus. 

 

Jika Anda masuk dalam kelompok “orang biasa” mungkin Anda akan memerlukan sepuluh atau dua puluh tahapan untuk mencapai keberhasilan. Tapi jika Anda  terlahir sudah menjadi “orang tidak biasa”, kaya, anak pejabat, terkenal mungkin dua atau tiga tahapan sudah mampu meraihnya.

Jagat raya akan lebih memberi penghargaan kepada “orang biasa” karena pasti ia berjuang berkali lipat dibandingkan “orang tidak biasa” untuk mencapai keberhasilan.

 

Sekarang sudah beberapa hari memasuki tahun baru, bergegaslah menentukan arah tujuan dan tetapkan langkah terus berjuang sampai titik puncak… Hidup itu memang berjuang dan jangan pernah lelah.