Introduction

Wednesday, March 31, 2021

Label dan Kotak

 

Cerita ini berawal dari perbincangan di WA Grup alumni kami. Seperti layaknya grup alumni isi perbincangan kerap “tak tentu arah”. Maklum saja selepas berpisah secara formal lebih dari tiga puluh lima tahun, tentu banyak yang membuat anggota grup berubah. Ada yang “label”nya sama seperti dahulu kala:  bersemangat, “galak”, ada yang berubah menjadi sangat tenang atau semakin bijak dan tentu ada pula penyimak terbaik. Tapi itu bukan bagian yang penting untuk dikisahkan.

Suatu kali seorang sahabat mengunggah gambar yang menyandingkan dua kelompok orang yang sedang bersepeda. Kelompok pertama diberi label “Orang Kaya” mengenakan topi pengaman “helm”, masker dan perangkat lainnya. Sedangkan kelompok kedua dengan label “Orang Biasa” hanya mengenakan topi caping bukan helm, tanpa masker dan perangkat lain. Caption yang mengiringi unggahan tersebut adalah “Orang Kaya. Lulusan S1, S2, S3” dan “Orang Biasa. Ada yang tidak lulus SD”. Gambar ini diberi tajuk besar "Antara pintar dan akhlak"

Bagi “orang biasa” mungkin, mengayuh sepeda bukan bentuk olah raga kekinian tetapi tak lebih dan tak kurang sebagai alat transportasi menuju tempat tujuan. Tetapi bagi “orang kaya” bersepeda adalah sebuah keriaan bersama teman atau pelepas penat setelah terus menerus berpikir untuk melahirkan gagasan atas nama kehidupan di kota besar.

Dua kelompok pengayuh sepeda menampakkan gaya yang berbeda, “orang kaya” bergerombol sehingga memblokade jalan umum, sedangkan “orang biasa” berbaris panjang ke belakang.

Bagi sebagian orang memblokade jalan yang dilakukan oleh orang yang tidak memiliki kewenangan merupakan kesombongan atau kepongahan. Tetapi bagi yang melakukan, bisa jadi dipandang sebagai “kepatutan” saja atau ada alasan lain yang pasti tidak akan bisa dipahami oleh pihak yang berseberangan. Begitu pula dengan pilihan pengayuh sepeda yang berbaris ke belakang, tidak dapat dengan serta merta disimpulkan berakhlak.

Tanpa disadari manusia memang kerap membuat label yang dilekatkan kepada kelompok masyarakat, sadar atau tidak sadar. “Orang kota sombong”, “orang kota pintar”, “orang berpendidikan tidak beradab”, “orang desa bodoh”, “orang desa berakhlak”, ”orang bodoh jujur”. Label tersebut sebenarnya juga sangat dapat diperdebatkan dan kadang terasa tidak adil.

Oleh karena itu rasanya tidak elok pula jika kita membuat pengkotakan compartmentalization” yang seolah-olah di dunia ini hanya ada hitam putih. Fakta hidup justru menyatakan wilayah abu-abu lebih banyak dihuni. Ini sangat mungkin terjadi akibat kegamangan hidup sehingga  orang tidak tahu harus berposisi dimana, tidak mau berpihak atau mengambil keuntungan. Pada masa “manusia modern” menjadi pemuja sains dan tekhnologi kemungkinan orang berada di wilayah abu-abu menjadi sangat tinggi dan bahkan Ia pun tidak sadar berada di wilayah tersebut.

Pengkotakan memang sulit dihindari mengingat cara pandang manusia dibangun atas dasar sifat-sifat dominan dalam hidupnya, pengalaman hidup dan tata nilai yang melekat. Namun demikian pengkotakan yang tajam disertai “pelabelan” akan menyempitkan pandangan ruang kehidupan seseorang dan menyulitkan manusia untuk menembus batas-batas sosial budaya. Bukankah pikiran manusia bisa mengubah sekitarnya…?

Karena manusia bukan komoditi yang akan dijual-belikan maka  tak perlu diberi kotak dan label. Jadi, mari mencoba menggunakan mata hati dan "meminjam" mata Wali untuk memahami cara orang lain. Melihara baik sangka dan  membuat asumsi bahwa semua manusia baik budi sesuai dengan fitrahnya akan memudahkan sayap mengepak mencapai langit.   Wallahu a'lam bish-shawabi.

 

                     Special Thanks to Syam, Bro Isma and Ika

Wednesday, January 6, 2021

Hidup itu Berjuang

 

Halo Junior… 

 

Akhirnya sampai juga pada tahun pertama di awal dekade baru, 2021. Tahun penutup dekade ini memang tidak ringan untuk dijalani. Serangan yang melanda hampir di seluruh dunia membuat banyak pergeseran cara pandang manusia. Sebenarnya, pergeseran ini ada pula yang bergerak ke arah positif, misalnya kesadaran akan kebersihan meningkat, mengenal dunia digital lebih dalam. Sedangkan negatifnya tentu lebih banyak. Tapi mari kita syukuri saja agar menjadi lebih mudah melangkah.

 

Bagaimana pun beratnya, manusia harus terus berjuang untuk meraih impiannya karena tidak ada keberhasilan yang datang menghampiri tanpa perjuangan. Tidak perlu terlalu banyak mengeluh karena akan melemahkan semangat dan jiwa. 

 

Yakinlah bahwa keberhasilan itu milik semua orang dan tidak memandang kasta, tentu sepanjang Anda berjuang. Maka mulailah tetapkan langkah untuk menjadi bagian orang yang berhasil. Jika impian berhasil saja tidak masuk dalam daftar hidup Anda, besar kemungkinan keberhasilan tidak akan menyambangi Anda. Kecuali kesuksesan itu sedang “tersesat jalan” dan itu tingkat kemungkinannya sangat rendah.

 

Langkah awal untuk berhasil atau sukses adalah memiliki “paket” yang memuat satu kesatuan  utuh yaitu tekad dan daya juang. Paket itu pun harus diperjuangkan dan ditanamkan dalam benak bahwa ujung kisah Anda adalah berhasil.Untuk mempermudah pencapaian buatlah langkah tahapan-tahapan “milestones” yang di akhir tiap langkah memuat tujuan yang diharapkan  “expected goals”. Jika gagal, ulangi lagi sambil memeriksa penyebab kegagalannya sampai pada akhirnya Anda tahu jalan terbaik bagi Anda. Jika Anda cukup rajin dan memiliki daya juang tinggi, semesta pasti tidak akan tega membiarkan Anda gagal terus menerus. 

 

Jika Anda masuk dalam kelompok “orang biasa” mungkin Anda akan memerlukan sepuluh atau dua puluh tahapan untuk mencapai keberhasilan. Tapi jika Anda  terlahir sudah menjadi “orang tidak biasa”, kaya, anak pejabat, terkenal mungkin dua atau tiga tahapan sudah mampu meraihnya.

Jagat raya akan lebih memberi penghargaan kepada “orang biasa” karena pasti ia berjuang berkali lipat dibandingkan “orang tidak biasa” untuk mencapai keberhasilan.

 

Sekarang sudah beberapa hari memasuki tahun baru, bergegaslah menentukan arah tujuan dan tetapkan langkah terus berjuang sampai titik puncak… Hidup itu memang berjuang dan jangan pernah lelah.

 



Friday, January 1, 2021

Halo 2021

  

 

Please Click👇👇👇

https://www.kompasiana.com/irnanir/5fed7ad88ede484ae52740e5/selamat-datang-2021-sebuah-renungan



 

Tuesday, December 22, 2020

Surat untuk Laki-laki Hebat di Hari Ibu

 

Dear laki-laki hebat,

 

Hari ini tanggal 22 Desember 2020, Hari Ibu Nasional. Surat yang saya tulis di hari Ibu ini secara khusus saya tujukan kepada laki-laki hebat pendamping perempuan, para Ibu.

Para perempuan pasti sadar bahwa dibalik pekerjaan mulia ada laki-laki hebat yang memberi banyak jalan baik, dukungan dan keikhlasan membiarkan perempuan untuk terus maju dan berkiprah.

Maju dan berkiprah bukan berarti harus selalu di luar rumah tetapi mungkin saja dengan “keluasan hati” perempuan memilih tetap berada di dalam rumah, mengurus rumah tangga. Itu pun sebuah pilihan yang luar biasa karena tidak semua perempuan mau melakukannya. Dan… laki-laki hebat akan membiarkan para perempuan memilihnya sendiri.

 

Dear laki-laki hebat,

 

Saya sadar bukan hal yang mudah bagi laki-laki untuk melepas perempuanmu berkiprah di luar rumah atau bukan perkara mudah juga baginya untuk meminta perempuan tetap tinggal di rumah. Pasti ada yang harus “dikorbankan”, kalau bukan perasaan, setidaknya waktu bersama akan menjadi berkurang. 

 

Dear laki-laki hebat,

 

Saya sengaja berkirim surat tepat di hari Ibu karena sudah pasti pada hari ini, kami, para perempuan, para Ibu mendapat banyak puja-puji dari berbagai pihak karena kiprah kami yang seakan-akan perempuan menjadi hebat karena dirinya sendiri. Apalagi kami dipandang pula sebagai mahluk yang tampak bisa melakukan segala hal dalam waktu yang bersamaan “multi tasking”. Padahal tanpa laki-laki hebat, perempuan juga tidak bisa menjadi hebat.

 

Dear laki-laki hebat,

 

Terima kasih atas budi baik, "rela berkorban” demi kami, para perempuan. Saya tidak bisa membayangkan jika tuntutan kepada perempuan hanya sekadar harus terus cantik dan bertubuh langsing. Padahal kekuatan dan kebaikan perempuan bukan ditentukan oleh tubuh yang kami miliki, atau selalu dipertentangkan antara dua dunia “produktif dan domestik”. Jika demikian, tentu kami akan tetap berada di tempat yang sama seperti masa RA Kartini.

 

Dear laki-laki hebat,

 

Biarkan kami memilih tanpa melupakan sesuatu yang kondrati pemberian Sang Pemilik Bumi dan Langit. Kami, perempuan tidak sedang berupaya menyamakan diri dengan laki-laki karena sadar itu upaya yang sia-sia. Kami hanya ingin membangun relasi yang setara, diberi kesempatan yang sama karena pada hakikatnya perbedaan itu untuk saling melengkapi. 

 

Selamat Hari Ibu…

 

 

 

Hari Ibu bukan Mother's Day. 

Hari Ibu memiliki makna sejarah perjuangan pergerakan perempuan  dan

 bukan sekadar satu hari di mana  semua orang memanjakan para ibu.

 


Monday, November 9, 2020

Lokal Versus Modern


Unknown Sources

Saya menerima  foto di atas dari WA group alumni semasa kuliah. Setelah saya tanyakan mengenai sumber foto tersebut ternyata  sahabat saya tidak mengetahuinya karena ia menerima foto  dari kerabatnya tanpa mencantumkan sumber. Saya mencoba menelusuri sumber foto yang  inspiratif tersebut melalui  google image dan hasilnya mencengangkan karena foto tersebut sudah digunakan oleh banyak orang. Saya gagal mendapatkan sumber gambar*.

Terlepas dari persoalan sumber foto tersebut, bagi saya gambar dalam foto tersebut menyiratkan pesan yang dalam. Tiga orang perempuan Bali yang perkasa tampak mengayuh sepeda dengan “santai” sementara beban di kepala terlihat cukup berat. Kalaupun tidak berat, saya yakin keseimbangan harus terus terjaga. Membawa barang dengan cara meletakkannya di atas kepala “menyunggi” memang sudah biasa dilakukan oleh perempuan Bali, hampir setiap hari. Apalagi pada upacara Mapeed, barisan perempuan berpakaian kebaya tradisional menyunggi sesajen yang pasti berat, sebagai ucapan terima kasih kepada Sang Hyang Widi, Tuhan Yang Maha Esa. 

Menyunggi sambil bersepeda merupakan koordinasi tingkat tinggi antara kepala dengan beban, kaki mengayuh, tangan mengendalikan arah, mata mengawasi keamanan jalan. Sungguh luar biasa…

Hal-hal yang saya sebutkan di atas saja sudah membuat saya begitu mengagumi “kekompakan indra dan raga” para perempuan hebat itu… ditambah lagi salah seorang perempuan pengayuh sepeda tersebut mampu dengan santai “bertelefon” sambil menebar senyum riang yang terpancar dari raut wajahnya. Sekali lagi, luar biasa..

Selain persoalan keseimbangan indra dan raga, ketiga perempuan tersebut menggambarkan harmoni yang sempurna antara budaya lokal dan budaya modern, menyunggi versus menggunakan telefon genggam. Gerusan dan gempuran budaya akibat modernisasi tidak membuat budaya lokal terpinggirkan. Apalagi hanya “kebudayaan benda”, sesuatu yang kerap kali besar manfaatnya.

Ternyata mudah saja disandingkan dan "bersenyawa", sepanjang diniatkan. Tidak perlu ada yang dikalahkan karena sejatinya manusia tidak bisa hidup hanya dengan mengandalkan budaya lokal saja atau hanya bertumpu kepada “budaya modern”. Selalu harus ada keseimbangan. Itulah indahnya hidup.

                                          

                                               *Terima kasih Bro Syam

Monday, October 19, 2020

Secangkir Kopi

 

Nikmati hidup seperti kita menikmati kopi. Seduh perlahan, nikmati kepahitan dari sebuah kenyataan. Tapi ingat dari kenangan kita belajar, seberapa buruknya yang sudah lalu pada akhirnya kita tetap di sini menikmati hari ini (Obing,7 Oktober 2020).

 

Kunci kebahagian hidup ada pada kekuatan mensyukuri. Seberapun pahitnya hidup kita di mata orang lain, tapi bisa terasa “tidak pahit” alias “biasa-biasa” saja, jika kita bersyukur.

Layaknya kopi, hitam dan pahit dengan aroma khas yang selalu menggoda bagi penggemarnya. Sensasi pahit rasa kopi menjadi sebuah kenikmatan menyeruput kopi. Secangkir kopi mampu membangkitkan semangat orang pada situasi yang melelahkan, menemani orang pada saat berpikir atau hanya sekadar menemani di kala Anda sendiri atau bersama teman dalam keriaan. Tetapi jangan tanyakan kenikmatan minum kopi kepada bukan penggemar kopi karena jawabannya dapat diperkirakan sama “pahit”. Sama dan sebangun dalam menyikapi kepahitan hidup.

Kopi memang sudah menemani hidup manusia berabad lamanya, terutama di Turki. Pada abad ke 17-18  kopi sedikit menggeser kedudukan teh sebagai teman mengobrol di Inggris. Meskipun demikian, tidak ada yang mengira kopi terus berjaya masuk ke dalam “peradaban” modern. Bahkan terminologi “ngopi” mengalami perluasan makna menjadi bukan sekadar minum kopi tetapi juga mengobrol, mulai obrolan ringan ala warung kopi, atau bisa jadi persoalan bisnis dan hal serius lainnya.

Kembali ke catatan sahabat saya yang luar biasa itu, bahwa seberapapun pahitnya kopi, pahitnya belajar, pahitnya hidup pada akhirnya rasa pahit itu akan hilang terbawa oleh waktu.

Tentu saja ada cara jika Anda ingin rasa kopi yang tidak terlalu pahit, tambahkan saja sedikit gula agar perpanduan rasa pahit dan manis menjadi sempurna. Sama juga dengan pahitnya hidup, tambahkan rasa syukur. Gula atau syukur menjadi penawar rasa. Atau jika masih tidak "mempan" juga, segeralah mendarat di bumi dari harapan dan angan-angan yang tinggi. Setelah itu Anda akan sadar bahwa meskipun harapan dan angan-angan tak dapat dicapai, hidup tetap  terus berlanjut… pada akhirnya kita tetap di sini, di bumi yang indah sambil menikmati secangkir kopi panas…

 

Tidak  ada  Rasa Pahit  yang  Menetap

kecuali

Anda Menginginkannya

-Bumisenior-

 


 

 

Illustrated by Water Planet
www.water-planet.co


 



Tuesday, September 29, 2020

Syukuri, Jalani, Nikmati

 

Syukuri, jalani dan nikmati menjadi ungkapan umum untuk menguatkan orang dalam menjalani hidup. Ungkapan itu terdengar mudah dan ringan, meskipun sesungguhnya pasti tidak terlalu mudah.

 

Orang bilang hidup harus dinikmati karena hidup hanya sekejap mata. Jadi jangan pernah Anda luput menikmatinya setiap penggal nafas. Beragam cara orang menikmati hidup mulai dari yang kemaslahatannya tampak nyata atau kasat mata, halal, tak halal sampai dengan remang-remang dan buram tak tentu rimba tapi tetap “diklaim” sebagai “sesuatu”.  

  

Yang menjadi perdebatan bagaimana cara menikmati hidup jika separuh hidup memberi banyak kisah yang Anda pandang menyulitkan, menyedihkan bahkan menyakitkan hati.

 

Karena rasa hati orang per orang berbeda, persepsi tiap orang juga beragam maka rasa sulit, sedih, sakit hati menjadi sangat nisbi. Oleh karena, itu menjadi tidak gampang untuk meminta orang selalu menikmati hidup ini.

 

Jalani saja dulu apa yang Anda "pikir" baik untuk semua, tidak perlu ragu melangkah karena sudah pasti jika ingin menikmati sesuatu, kita harus menjalaninya terlebih dahulu… Selanjutnya barulah Anda akan mengetahui apakah sesuatu itu dapat dinikmati atau tidak. Dibandingkan dengan “menikmati”, “menjalani” memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi. Menjalani perlu keluasan hati karena Anda akan berhadapan langsung dengan beragam persoalan yang nyata agar bisa sampai di penghujung. Jika tidak, pilihannya berhenti untuk kembali ke titik awal, atau diam di tempat, tidak bergerak.

 

Untuk meringankan langkah kita dalam menjalani sesuatu agar pada akhirnya bisa menikmati yaitu dengan selalu bersyukur. Bersyukur merupakan wujud kebesaran hati manusia menerima kejadian, peristiwa atau kondisi apapun, dalam bahagia atau duka cita. Jika Anda merasa kesulitan mencari “nikmat” hidup yang bisa disyukuri karena berpraanggapan bahwa semuanya tidak bisa dinikmati, maka yang harus disyukuri, setidaknya, mungkin masih punya teman, mungkin memiliki anak, masih bisa berpikir, atau yang paling ekstrim masih bernafas… Kalau bernafaspun tidak disyukuri, tampaknya, memang terjadi kesalahan besar dalam hidup. Jika demikian adanya, bersegeralah menemui pemuka agama yang paling bijak untuk mendapat pencerahan.

 

Menurut pendapat saya, cobaan hidup akan terasa “lebih ringan”, walaupun bukan menjadi “ringan” jika seseorang pandai bersyukur, seberapapun beratnya. Mungkin karena Sang Khalik percaya kepada Anda sehingga tugas Anda menjadi lebih berat dibandingkan orang lain. Jika itu bisa dilalui atau dijalani maka Anda menjadi orang hebat… karena nikmatnya hidup berawal rasa syukur yang mendalam…
Wallahu a’lam bish-shawabi

 

Thursday, September 3, 2020

Jangan Menunggu. Jemputlah…

 

Menurut banyak sumber kata sabar didefinisikan sebagai kemampuan menahan keinginan atau emosi dalam situasi yang sulit. Jika seseorang mampu bertahan, tanpa mengeluh maka ia akan dipandang sebagai orang yang bernilai tinggi dan memiliki ketangguhan dalam menghadapi persoalan hidup.

Meskipun  kata sabar memiliki makna “kemampuan menahan”, itu tidak berarti bersinonim dengan diam tak bergerak, bergeming dan hanya menunggu datang sesuatu dari langit ke tujuh. Tampaknya itu agak tak mungkin, kecuali atas izin khusus dari Sang Pemilik semesta alam raya. Saya percaya yang dimaksud oleh Sang Khalik pun bukan berdiam diri tanpa usaha tetapi selalu berikhtiar atau berusaha.

Tidak ada, atau setidaknya jarang, kesempatan baik datang tiba-tiba menghampiri Anda karena kesempatan itu harus “dikondisikan” untuk menjadi ada. Jika ada seseorang menawari Anda, misalnya, pekerjaan menarik dan penuh tantangan, itu bukan datang kepada Anda melayang-layang dari angkasa. Tapi karena Anda memiliki rekam jejak yang baik di bidang terkait dan tercatat dalam portfolio Anda baik yang terekam secara “wujud” atau dalam “penyimpan awan”. Jika ternyata Anda tidak punya rekam jejak di bidang terkait, saya bisa pastikan bahwa Anda punya rekam jejak sebagai “orang baik budi”.

“Menunggu” datang keajaiban di masa-masa seperti ini sungguh perbuatan yang sangat tidak kreatif dan produktif bahkan boleh disebut tindakan yang “ajaib”. Jadi,jangan pernah menunggu kesempatan datang, jangan pernah menunggu kesempurnaan datang, jangan pernah menunggu kebaikan menghampiri, jangan pernah menunggu jodoh mengetuk pintu rumah Anda… Mulai saja sekarang juga… atau jemputlah segera. Jika tidak, maka hal yang Anda idam-idamkan bisa disambar orang lain.

Tidak  mau menunggu bukan berarti tidak sabar. Tetapi menjemput kebaikan jauh lebih baik dibandingkan diam menunggu karena menyegerakan hal baik jauh lebih bernilai dibandingkan menundanya. Bisa saja bukan cuma Anda yang mendapat keuntungan, tetapi orang lain di sekitar Anda turut terpecik harum keberhasilan tersebut.

Jika telah berikhtiar atau berupaya sekuat tenaga tetapi belum berhasil, maka bersabarlah dengan sabar… Sang Khalik tau benar kapan seharusnya itu menjadi bagian Anda… Wallahu a'lam bish-shawab

  

                                                        Tulisan diinspirasi dari status WA sahabat saya, Alia.

 

 

 

Tuesday, August 25, 2020

DIKSI

 

Pernahkan terbersit dalam benak Anda untuk menghitung berapa banyak kata yang Anda ucapkan setiap hari? Atau pernahkah Anda sadari berapa banyak orang yang menjadi kagum, bahagia, jatuh cinta bahkan marah pada Anda “hanya” karena kata-kata yang Anda ujarkan? Saya mengira tidak banyak orang yang “kerajinan” memikirkan hal-hal seputar kata seperti yang saya kemukakan di atas atau mungkin dipandang tak penting juga.

Ini bukan sekadar persoalan kata tapi persoalan bagaimana Anda memilih “diksi”, kata dalam ujaran atau tulisan. Diksi adalah pilihan kata yang tepat dan selaras  untuk mengungkapkan pesan  yang ingin disampaikan atau sengaja dibuat sedemikian rupa untuk tujuan tertentu sehingga memperoleh "kesan" sesuai harapan

Istilah diksi belakangan ini menjadi lebih popular karena dihubung-hubungkan dengan seorang drummer sebuah grup band yang terkena salah satu pasal ITE. Kasus drummer tersebut bisa menjadi contoh bagaimana pilihan kata akan bisa menjadi permasalahan besar yang membuat orang sengsara. Saya tentu tidak paham sama sekali apa yang ada di benaknya karena selain tidak mengikuti “kiprahnya”, saya pun tidak tertarik berpikir-pikir apa maksud dan tujuannya.

Kembali kepersoalan diksi, jika penutur menggunakan pilihan kata yang “tepat”  dengan maksud yang dituju, maka diksi mampu membuat pembaca atau petutur  memahami, tertipu, merasa dirayu, terintimidasi atau terhasut. Meskipun tidak ada yang salah dengan kata itu sendiri tapi diksi yang digunakan dalam ujaran dapat menimbulkan beragam persepsi, tergantung kepada cara pandang, pengetahuan, pengalaman dan bahkan keberpihakan petutur atau pembacanya. Kadang kala diksi memang dianggap sebagai sesuatu yang nisbi, tak pernah mutlak.

Sungguh kita tak bisa memaksa orang untuk menggunakan diksi yang sama  dengan kita untuk mengutarakan maksudnya. Karena manusia memiliki pengalaman berbeda dan tidak ada satu orangpun  yang memiliki akses langsung terhadap pikiran orang, maka cara mengungkapkan pesanpun jadi  berbeda.  Tetapi memandang dan berpikir tentang rasa hati orang lain juga menjadi hal yang harus dipertimbangkan dalam menyampaikan gagasan kita. Sedangkan bagi para petutur ada baiknya berlaku lebih  menerima diksi yang digunakan orang meskipun  pilihan kata terasa tak elok.  Maklum saja, sekarang ini memang manusia sedang dimanja oleh kebebasan yang kadang kala melampau batas kepatutan.

Tak heran jika ada istilah yang menyatakan “mulutmu harimaumu” karena bisa menerkam siapa saja termasuk diri sendiri. Oleh karenanya jaga lisan agar semua orang bahagia dan bergirang hati. Bijaklah memilih kata…

 

karena  kata - kata cerminan  diri...



Monday, August 17, 2020

Merdeka adalah...

 🎈 📅 Agustus 1945🎈


Merdeka adalah:

bebas memilih

bebas menentukan

bebas berpendapat

bebas berekspresi

bebas berbicara

dan seribu kebebasan lainnya…

 

Merdeka adalah:

kesadaran bahwa kita tak sendiri

kesadaran orang lain memiliki hak

kesadaran orang lain memiliki pikiran

kesadaran orang lain memiliki cara

kesadaran orang lain ingin berbicara juga

dan seribu kesadaran lainnya…

 

Merdeka adalah:

saling menghargai

saling menghormati

saling memahami

saling membantu

saling mendukung

 

Merdeka adalah:

membuang ego masing-masing

membuang hanya mencintai diri sendiri

membuang rasa malas

membuang kesombongan diri 

 

Merdeka itu:

kerja keras

kerja cerdas

kerja tulus ikhlas

kerja dengan hati dan cinta 

 

Merdeka itu:

tidak absolut

tidak bisa sendiri

tidak milik sendiri

 

Sejatinya merdeka adalah kebebasan yang didasari

 atas kesadaran tinggi bahwa menjadi merdeka tidak bisa dibangun seorang diri 

dan tanpa kerja keras.

 

 🎈 📅 Agustus 2020🎈



 Illustrated by Water Planet
www.water-planet.co