Introduction

Sunday, July 26, 2020

Bekerja dengan Hati


Halo Junior...

Kali ini saya ingin menyapa para junior pembaca setia Bumi Senior, yang penuh gairah hidup dan semangat. Anda pasti sering mendengar orang mengatakan jika ingin pekerjaan kita berhasil dengan baik maka harus memiliki “passion” di bidang yang kita geluti. Work with Passion “bekerja dengan hati” dibicarakan bukan hanya pada obrolan santai kelas “warung kopi” saja, tetapi juga dalam diskusi ilmiah yang disampaikan oleh para pakar atau webinar yang sedang naik daun belakangan ini. 

Dalam Bahasa Indonesia passion tidak dapat diselaraskan dengan hanya “ketertarikan” karena passion juga memuat makna “gairah”. Maka saya lebih suka menyelaraskannya dengan “bekerja dengan hati”. 
Saya tentu percaya jika seseorang bekerja di bidang yang disukai akan lebih gampang menyesuaikan diri, menikmati dan sulit dilanda rasa bosan. Hal tersebut bukan bermakna “mudah” tetapi menjadi “lebih mudah”. 

Jika Anda tidak seberuntung itu, mendapat pekerjaan atau bekerja sesuai dengan minat, hobi atau “impian” apalagi di masa yang tak mudah ini, tentunya harus ada upaya dan mungkin penuh perjuangan untuk menjadi jatuh cinta pada yang kita kerjakan. Sayapun percaya itu sangat mungkin… seperti ungkapan witing tresno jalaran soko kulino “cinta itu lahir dari kebiasaan”. Begitu pula dengan pekerjaan.

Secara umum bekerja dengan hati merujuk kepada segala pekerjaan atau kegiatan yang sesungguhnya kita cintai atau tidak kita cintai tapi dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Tak terlalu berpikir apakah akan banyak menguntungkan diri, menjadi terkenal atau mendatangkan harta berlimpah, tetapi sadar bahwa apa yang dilakukan memberi kemaslahatan bagi khalayak. Kalaupun hal tersebut kita dapatkan, maka itu menjadi “bonus” keikhlasan hati menjalaninya dengan penuh tanggung jawab.

Jika Anda mampu melampaui batas-batas ketidaknyamanan menjadi nyaman, atau Anda mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan dan pekerjaan yang bukan “passion” itu, maka di situlah kehebatannya.
Bukan mudah tentunya, tapi selalu ada jalan menuju kebaikan jika diniatkan baik.
Jadi tidak perlu meributkan apakah ini “passion” atau bukan, bekerja saja dengan penuh tanggung jawab dan bekerjalah dengan hati maka cinta itu biasanya akan tumbuh…



Sunday, July 12, 2020

Kurikulum Semesta untuk Bumi


Saya tertarik dengan pernyataan yang ditulis oleh sahabat saya sesama senior* “pelajaran yg tercantum dalam Kurikulum Semesta adalah mengolah batin or mengasah budi tingkat demi tingkat lapis demi lapis sampai lapis terhalus n tingkat tertinggi”. Pernyataan ini disampaikan kepada saya melalui pesan pribadinya untuk menambahi atau mengomentari artikel saya yang bertajuk “Orang Pintar versus Orang Baik” di sebuah “blog keroyokan” (jika penasaran silakan berselancar).

Saya setuju seratus persen dengan pernyataan tersebut karena pada dasarnya hidup ini adalah belajar. Sampai pada akhirnya akan menghasilkan manusia pintar yang baik budi, manusia pintar yang buruk hati, manusia baik hati dan tak pintar atau yang paling parah manusia tak pintar yang buruk hati… Memang tidak mudah mencari kombinasi ideal agar dapat memiliki manfaat di bumi manusia ini.

Oleh karena itu saya menganggap baik budi itu  menjadi dasar bagi seseorang untuk menghasilkan sesuatu yang bergaung keras dan kuat ke segala penjuru bumi ini. Hasil dari perbuatan baiknya akan dirasakan oleh semesta alam raya.

Orang baik budi bisa berada dimanapun meskipun tidak selalu dapat diterima oleh siapapun karena ia akan dianggap “mengganggu” oleh orang yang buruk hati. Tapi pasti tidak akan ada kerugian apapun juga jika tidak disukai oleh si buruk hati.

Kembali kepernyataan sahabat saya di atas bahwa jika kita mengikuti “kurikulum semesta” yang telah disusun dengan sempurna oleh pemilik semesta alam raya secara berjenjang niscaya kita akan berhasil menjadi orang baik budi. Masalahnya manusia memang diberi keleluasaan dalam mewarnai jalan hidupnya, bisa putih bersih bagaikan kapas, berwarna-warni bak pelangi atau hitam kelam bagaikan malam tak berbintang.

Menurut sahabat saya, kurikulum itu memuat pelajaran mengolah batin atau mengasah budi. Banyak ancangan yang dapat digunakan untuk mengolah batin atau mengasah budi, yang paling mudah dan sangat manjur menggunakan ancangan agama karena di dalamnya sudah memuat aturan-aturan serta etika moral yang lengkap. Jika Anda lulus dari mata pelajaran tersebut maka Anda diperkenankan mengikuti tingkat atau lapis berikutnya. Begitu seterusnya sampai pada tingkat tertinggi dan akhirnya Anda akan dinyatakan lulus dengan menyandang predikat “orang baik budi” di bumi manusia ini.

Karena kurikulum itu cukup berat, jadi ada kemungkinan orang tidak bisa melaluinya dengan baik alias tidak lulus. Kelompok ini tentu saja bisa tidak berhasil di berbagai tingkat atau lapisan. Oleh karena itu tingkatan orang baik juga berbeda-beda mulai dari grade 1 sampai dengan grade tertinggi yaitu “orang baik budi”.

Ternyata tak telalu mudah juga menjadi orang baik budi…

 
Berbagi Pesan Bersama Sahabat Senior

*) Special thanks to Ibu Santi P. Mardikarno

 

 


Friday, July 3, 2020

Perempuan Merdeka


Halo para perempuan...

Rasanya saya bahagia setiap kali bisa menyapa Anda semua… Sapaan kali ini saya tujukan bukan hanya untuk para  perempuan senior saja tetapi untuk semua perempuan yang pandai bersyukur dan bahagia karena terlahir sebagai perempuan.

Saya sengaja membuat tajuk tulisan ini “Perempuan Merdeka” karena menurut pengamatan kasar saya (bukan hasil riset), masih banyak perempuan terperangkap dengan “keperempuanannya”.  Misalnya, “memaksa”  berkulit putih, berwajah tirus dan harus ramping, atau beralis bagaikan semut beriring… maka dikejarlah tampilan “cantik” versi tersebut. 
Tentu saja, saya tidak ingin mengatakan bahwa berpenampilan cantik atau berupaya tampil cantik itu salah. Tetapi saya lebih berbahagia untuk mengatakan cintailah wajah Anda, tubuh Anda apa adanya karena itu pemberian Ilahi yang membawamu ke berbagai tempat yang Anda inginkan, mengantarkan Anda pada pencapaian saat ini, dan semua hal yang mungkin tak pernah Anda syukuri sebelumnya.

Menjadi perempuan dengan jiwa yang merdeka seharusnya melekat pada setiap perempuan. Masalahnya, sebagian perempuan, dan saya yakin itu bukan Anda, masih gemar melemahkan dirinya sendiri dengan hanya berbicara masalah tubuh. Padahal apa salahnya tubuh ini?  

Menurut saya, kecantikan perempuan tidak pada tubuh atau wajah… Ia bersifat harmoni dan menjadi satu kesatuan yang utuh, gabungan antara hati, pikiran dan menjaga kehormatan diri. Maka dengan demikian orang akan dapat menilik kecantikan Anda.

Perempuan harus mampu melepaskan diri dari segala batas-batas yang melemahkan akal pikiran dan stigma atau label yang melekat padanya, kecuali tentu saja hal-hal yang kodrati. Ia harus memiliki kebebasan dalam memilih dan menentukan jalannya serta mampu  pula mengenali dirinya sendiri, potensinya, keinginannya dan untuk selanjutnya dapat memanfaatkan semua itu demi kemaslahatan.

Perempuan tidak perlu berupaya menyamakan diri dengan laki-laki karena itu upaya yang sia-sia. Bangun saja relasi setara antara perempuan dan laki-laki karena pada hakikatnya perbedaan itu untuk saling melengkapi. Tak perlu dipaksakan… Biarkan berbeda, biarkan tak sama, berjalan saja di jalan kita dan bertindaklah dengan kebijaksanaan bukan dengan emosi dan kebodohan.
Maka jadilah Anda Perempuan Merdeka...
 
Tak hanya R. A. Kartini. 
Menurutku semua perempuan yang menghargai dirinya, menghargai, dan menginginkan kemajuan sesamanya, Harum namanya.

(KH. Ahmad Mustofa Bisri)


 Untuk perempuan yang bersyukur terlahir sebagai perempuan

Friday, June 19, 2020

Forever Young


Kelompok senior yang semangatnya senantiasa muda dan seorang anak muda yang menjadi inspirasi saya kali ini memang “agak tak biasa” jiwa mengabdinya. Bukan berarti mereka mengabaikan kehidupan pribadinya tetapi menurut saya, mereka mampu menyelaraskan dengan sempurna antara ranah kehidupan pribadi dan pengabdian. Memang mereka memilih dengan sadar dan merasa terpanggil untuk menekuninya meskipun dalam situasi tidak terlalu mudah, sehingga hasilnya menjadi sebuah kesempurnaan hidup.

Bagi para pengabdi, usia bukan menjadi penghenti atau penghambat tugas kebajikan, bahkan usia harus mampu meningkatkan totalitas kepatuhan untuk berbuat lebih baik. Apakah angka pada usianya berjumlah banyak atau masih dapat Anda hitung dengan jumlah jari Anda dan pasangan Anda… semangat harus terus membara demi kemaslahatan.

Manusia-manusia hebat yang semangatnya selalu muda itu meyakini bahwa kewajiban manusia merupakan tanggung jawab yang diberlakukan kepada semua orang. Tanggung  jawab terhadap kewajiban inilah yang akhirnya  memiliki nilai lebih tinggi karena dijalankan oleh suara hati.

Nurani para pengabdi seakan-akan menyatu dengan alam semesta dan seisinya. Tanggung jawab untuk memberikan sumbangsih nyata, memberikan segala kemampuan, pikiran dan tenaga diejawantahkan dengan nyata hanya karena tak ingin generasi berikut tak bisa mewarisi indahnya bumi dan tetap pada “ketidaberadaban”.

Bukan mereka tak pernah menghadapi rintangan, tetapi keyakinan bahwa "Sang Pemilik" berpihak kepada jalan keiklasan ini, maka jadilah pengabdian ini seakan tak berujung. Mereka juga tidak biasa menghitung berapa banyak yang sudah dikeluarkan dan didapatkan karena tidak akan pernah bisa dihitung secara matematis... apalagi jika kita ingin menghitungnya dengan mesin penghitung... tidak ada satu pun  yang menyediakan "angka"* sejumlah itu. Jadi biarkan semua terus berjalan seiring dengan usia berjalan

Yang ada pada benak para pengabdi hanyalah bahwa semua penghuni jagat raya memiliki derajat yang sama di muka bumi maka sudah seharusnya manusia memiliki kepedulian antar sesama, mahluk Ilahi lainnya dan bumi tempat berpijak.
  

Karena Aku Bersyukur Maka Aku Mengabdi,
 Aku Mengabdi karena Aku Bersyukur

Seniors & Junior
  
Usia Tak Berbatas

Selamanya Muda untuk Pengabdian
Dedicated to SRS,JK, AS
*Thanks to Bro Syam

Friday, June 12, 2020

Aku dan Pikiran


Pada saat Anda berpikir,apakah Anda juga berpikir tentang apa sesungguhnya pikiran itu... dimana pikiran itu berada... atau makhluk apakah pikiran itu... sampai-sampai Anda harus meluangkan banyak waktu untuknya. Apakah benar "Aku Berpikir Maka Aku Ada” “Cogito Ergo Sum” (Descartes)

Hubungan “Aku” dan “Pikiran” yang terjalin indah berabad lamanya itu tampak tak berpangkal dan tak berujung. Sampai pada suatu masa di suatu tempat yang tak jelas keberadaannya terjadi percakapan panjang antara “Aku” dan ”Pikiran.”

Untuk memudahkan maka saya saripatikan perbincangan antara “Aku” si maha merasa memiliki dan “Pikiran” si maha merasa penting.

“Dialog antara Aku dan Pikiran di Suatu Masa”
(hari-tanggal-bulan-tahun)

Aku      :Siapa kamu...?
Pikiran  :Aku adalah inti hidup
Aku      :Mengapa kamu berada di situ padahal aku tidak  mengenalmu
Pikiraan :Kamu sangat dekat denganku
Aku      :Bagaimana mungkin kamu bisa dekat denganku
Pikiran  :Kamu selalu membutuhkan aku. Tiada hari tanpa aku
Aku      :Jelaskan kepadaku siapa sesungguhnya kamu...
Pikiran  :Akulah yang selalu ingin kamu kuasai... padahal aku bukan  kamu... Aku adalah Aku, “entitas mandiri”
Aku      :Aku tidak paham maksudmu
Pikiran  :Tentu saja tidak,   karena kamu tidak akan mampu melakukan apapun tanpa aku. Jika  kamu lupa, kuperkenalkan kembali bahwa aku adalah “Pikiran”
Aku     :Ahaaa... Wahai “Pikiran” diamlah di tempatmu karena kamu bukan apa-apa jika tanpa aku. Akulah pemilikmu...
Pikiran  : Jika aku meninggalkan kamu maka kamu bukan “kamu” lagi dan tidak dapat disebut manusia
Aku      :....???
Pikiran  :....???

Perbicangan terhenti... baik “Aku” maupun “Pikiran” terhenyak... Dua “makhluk ajaib” yang sesungguhnya berbeda tetapi tanpa disadari saling membutuhkan dan kerap kali harus berjalan seiring... meskipun bukan menjadi keterwakilan atas masing-masing entitas.

“Pikiran” adalah  sebuah timbunan pengalaman fisik dan mental yang muncul akibat proses luar sadar dalam otak manusia. Kadang kala ia bersikap liar karena menemukan pengalaman batiniah lain yang mewarnai hidup tapi sesungguhnya tak dikendaki oleh “Aku”. Oleh karena itu “Aku” kadang tak mampu menguasai dan mengatur “Pikiran” sesuai kehendaknya. “Pikiran” akan berubah menjadi baik jika menerima masukan baik, tetapi jika masukan itu buruk maka buruklah ia…

Sedangkan “Aku” sesungguhnya baik hati dan budiman karena ia milik Ilahi. “Aku” adalah perwujudan unsur-unsur materi yang ditentukan oleh ruang dan waktu serta melekat pada pada tubuh manusia "man the unknown" yang tak pernah selesai diperdebatkan oleh para pakar. “Aku” sebenarnya selalu berusaha menguasai “Pikiran” walaupun “Aku” tidak sama dengan “Pikiran” tapi “Aku” adalah tuan dari “Pikiranku” karena ia melekat pada tubuhku

Oleh karena itu tak perlu berpayah-payah memaksa agar “Aku” selalu sama dengan “Pikiran” atau “Pikiran” selalu sama dengan “Aku” karena tidak akan berhasil... kecuali Anda meminta bantuan kepada hati nurani “Qalbu”, akalmu dan tubuhmu sebagai pemilik kesemuanya itu.

Sejatinya yang dibutuhkan hanya kesadaran yang "benar-benar sadar" bahwa “Pikiran” itu bukan “Aku....”. Pahami saja diri Anda maka pikiran akan mengikuti… dan hidup akan menjadi lebih indah...

Aku Bersyukur karena Nuraniku Menuntun Pikiranku


Untuk jiwaku yang tak pernah padam. If...

 

Friday, June 5, 2020

Choices, Chances, Changes


Apa yang Anda pikir jika saat ini Anda akan memasuki usia 50 tahun...? Melihat ke belakang sambil membayangkan pencapaian Anda dan mulai merencanakan langkah berikut...? Menatap ke muka sambil membayangkan betapa Anda akan menjadi semakin tua dan ada “kengerian” mengikuti...?, baru kemudian Anda tetapkan langkah. Atau, Anda berpikir untuk membiarkannya berjalan secara alamiah saja...? “Let it flow...?”

Menurut saya tidak ada yang salah dengan ketiga “model” pikiran di atas. Yang salah jika Anda tidak pernah berpikir sama sekali... maka, itu menakutkan bagi saya.

Sengaja saya membuka tulisan ini dengan batas usia 50 tahun karena saya beranggapan usia 50 tahun adalah usia berpindahnya tahapan hidup manusia, tahap hidup muda dan penuh gairah menuju tahap baru menjadi masyarakat senior. Seorang sahabat baik saya, lebih suka menyebut masyarakat senior dengan Advance Age Group/ AAG (“thanks, Bro…”)*.

Banyak hasil riset yang menyatakan bahwa usia 50 tahun ke atas menjadi momentum orang untuk lebih tenang karena sebagian besar rencana hidup sudah tercapai, karir membaik, mungkin anak-anak sudah besar dan lain lain. Tetapi seiring dengan itu, penyakit juga mulai bermunculan. Paduan antara pencapaian dan penyakit serta masalah hidup lain membuat orang mulai merancang langkah baru atau memperbarui rencana memasuki usia senior.

Jika pencapaian sebelum usia 50 tahun dianggap cukup baik karena Anda selalu memanfaatkan kesempatan yang datang tentu tidak ada salahnya Anda mengikuti “alur” tersebut dengan beberapa modifikasi setiap satu dekade. Yang saya maksud dengan “alur” misalnya perhitungan finansial berjalan lancar, tabungan masa depan sudah berjalan, sudah memiliki asuransi kesehatan, bekerja sampai satu dekade pertama, dekade berikutnya bekerja paruh waktu atau tetap bekerja dan seterusnya. Menurut saya, ini sangat ideal “on the right track”. Untuk mendapatkan hasil yang lancar seperti ini, sudah pasti rancangan pola hidup harus dimulai sejak lama dan dengan asumsi semua berjalan lancar tanpa hambatan yang berarti. 

Karena jalan hidup orang beragam, atau kesadaran akan persiapan “masa depan” muncul belakangan, atau bisa pula Anda menganggap model kehidupan sebelumnya tidak akan sesuai lagi karena, misalnya terlalu “hedonis” atau pandangan hidup Anda berubah karena sesuatu hal, maka ini saatnya Anda mengubah dan memulai “hidup baru…”. Menata ulang hidup pada saat usia memasuki 50 tahun perlu upaya besar, dari mulai mengubah gaya hidup sampai dengan cara pandang. Tapi sepanjang Anda yakin bahwa rancangan atau langkah baru itu membuat Anda lebih tenang, nyaman dan bahagia, tentu tidak ada yang perlu ditakuti, jalanilah saja dengan penuh semangat karena ada sesuatu yang indah menanti di depan.

Apabila Anda menganggap dua model di atas terlalu menjadi beban karena harus membuat perencanaan baru, mengubah gaya serta pikiran, maka membiarkan hidup Anda bergulir secara alamiah yang akan menjadi pilihan. Pilihan ini biasanya karena Anda menganggap tidak ada yang salah dengan yang sudah dijalani dan “model” ini masih bisa berlangsung meskipun usia bertambah. Ikuti saja kemana arah air mengalir… Tapi berhati-hatilah karena air tidak tenang terus menerus. Ketenangan air akan tergantung juga kepada banyak hal misalnya ketinggian atau bebatuan. Begitu pula hidup… Jadi bagi yang belum sampai usia 50 tahun, bersiap-siaplah untuk menyambut “the fantastic fifty…”

Karena hidup hakikatnya tentang memilih …
                              
                                                                                                   *CMF

Friday, May 29, 2020

If...


If you can keep your head when all about you
Are losing theirs and blaming it on you,
If you can trust yourself when all men doubt you,
But make allowance for their doubting too;
If you can wait and not be tired by waiting,
Or being lied about, don’t deal in lies,
Or being hated, don’t give way to hating,
And yet don’t look too good, nor talk too wise:
If you can dream—and not make dreams your master;
If you can think—and not make thoughts your aim;
If you can meet with Triumph and Disaster
And treat those two impostors just the same;
If you can bear to hear the truth you’ve spoken
Twisted by knaves to make a trap for fools,
Or watch the things you gave your lIfe to, broken,
And stoop and build ’em up with worn-out tools:
If you can make one heap of all your winnings
And risk it on one turn of pitch-and-toss,
And lose, and start again at your beginnings
And never breathe a word about your loss;
If you can force your heart and nerve and sinew
To serve your turn long after they are gone,
Except the Will which says to them: ‘Hold on!’
If you can talk with crowds and keep your virtue,
Or walk with Kings—nor lose the common touch,
If neither foes nor loving friends can hurt you,
If all men count with you, but none too much;
If you can fill the unforgiving minute
With sixty seconds’ worth of distance run,
Yours is the Earth and everything that’s in it,
And—which is more—you’ll be a Man, my son!
(Oleh Rudyard Kipling: 1910)


Membaca puisi indah yang terdiri dari empat stanza buah karya Rudyard Kipling membuat saya kembali “mengagumi”  If.
If dalam puisi Kipling ini  dipadankan  menjadi “jika”  masuk kelompok konjungsi syarat atau kondisional yaitu kata hubung yang menerangkan bahwa sebuah peristiwa dapat terjadi apabila syarat-syaratnya terpenuhi.
If berasal dari kata yang tidak dapat berdiri sendiri dan tampak tak bemakna tapi If mampu memberi gambaran kondisi “masa depan” jika dilekatkan dengan penjelas rujukannya. If atau “jika” mengandaikan “sesuatu akan…”. Oleh sebab itu If menjadi begitu penting karena tidak ada seorangpun yang dapat membuat rencana besar tanpa membuat pengandaian atau dalam bahasa yang lebih populer disebut skenario. Jika saya melakukan ini maka hasilnya akan itu…,  jika saya melakukan itu maka hasilnya akan ini. If seakan-akan menjadi sebuah “ultimate inspiration” yang  akan membimbing manusia untuk membuat pilihan dan keputusan pada berbagai situasi dalam kehidupan.
If juga menjadi judul puisi Rudyard Kipling (1865-1936) yang sangat populer. Buah karya ini ditulis dalam bahasa Inggris pada tahun 1985 dan diterbitkan tahun 1910. Puisi If terinspirasi atas perjalanan hidup sahabatnya, Leander Starr Jameson, seorang politisi di zaman kolonial di Afrika Selatan. Puisi yang dipersembahkan kepada anak laki-laki Kipling ini memuat pesan  moral dan nasihat serta seperangkat tata cara menghadapi hidup agar bisa memahami dunia.
Puisi ini menjadi  unik karena menggunakan pengandaian If  bukan hanya sebagai judul puisi tetapi juga pengulangan  sebanyak sebelas kali di setiap awal baris. Pengulangan If dan diksi yang tepat mampu menjaga optimisme dan  nada positif pada puisinya sehingga menghasilkan puisi yang memberi inspirasi kepada khalayak pada masa itu. 
If menjadi puisi yang terasa sangat “dekat”  karena Kipling menggunakan  pronomina persona “you”, seakan-akan ia berbicara langsung kepada dirinya atau, bahkan, orang dapat menafsirkan bahwa puisi itu ditujukan kepadanya, kepada dunia seperti pada dua baris terakhir  dalam puisi If “milikmu adalah bumi dan segala yang ada di dalamnya” Yours is the Earth and everything that’s in it…”
If...

Saturday, May 23, 2020

Very Happy Eid Mubarak


Dear all seniors,

I might not be there with you today, but you are always there in my prayers. May Allah bring peace and happiness to you. From depth of my heart, with this special pray, that your Eid be filled with pleasures, smiles, colors, love, sympathies, good feelings, joys, and peace… May peace and blessings of Almighty Allah be with you and your family.

A very happy Eid Mubarak to you 
1 Syawal 1441 Hijriah
 

Illustrated by Water Planet
www.water-planet.co

Friday, May 22, 2020

Perempuan Perkasa


Seorang sahabat masa remaja saya yang tentu sekarang sudah senior memilih sebuah jalan panjang dan berliku untuk mencapai penggalan akhir dalam hidup ini.  Ia, sahabat saya, memang “bukan orang biasa”, maksud saya pikiran dan keputusan menjalani hidupnya memang tidak biasa… Sekolah, lulus, bekerja, menikah, beranak dan bercucu… bukan itu jalan yang ditempuh sahabat saya yang satu ini. Walaupun kami bersahabat berpuluh tahun lamanya, sejujurnya, saya tidak pernah memahami apa yang ada di benaknya... Tapi bukankah perbedaan cara memandang hidup tidak penting untuk menjalin persahabatan…? Wallahu a’lam.

Saya memang “pengagum” perempuan perkasa. Lagi-lagi saya tidak mampu memahami bagaimana para perempuan ini berani “menantang” pranata sosial yang secara umum memiliki stigma atau label bagaimana perempuan seharusnya berlaku. Tentu ini bukan soal sahabat saya saja, ini perihal semua perempuan senior yang sudah mengabdikan diri dalam kehidupan yang kadang tidak dipilihnya tetapi harus dijalani.

Para perempuan hebat selalu percaya dalam kehidupan yang sebenarnya tidak dipilih itu masih tetap ada pilihan yang mau tidak mau, suka atau tidak suka harus dipilih yaitu “membahagiakan diri” atau “meratapi diri”. Bagi saya memilih “membahagiakan diri” dalam situasi yang tidak terlalu menyenangkan merupakan kehebatan karena Anda pasti membutuhkan “seperangkat amunisi” untuk bisa berdiri tegak “menantang dunia”.

Perempuan tangguh ini bukan melulu perempuan “single” tetapi juga para perempuan berkeluarga yang berjuang untuk “menegakkan keluarganya”. Masing-masing dengan persoalannya tetapi tetap memiliki tingkat kesulitan yang sama.

Untuk sampai pada kata tangguh bukan berarti para perempuan tersebut selalu  melakukan semuanya sendiri... karena sejatinya perempuan tangguh adalah  perempuan yang memiliki ketekunan untuk membangun kekuatan  ketika ia merasa lemah dan mampu menemukan jawaban,solusi atau  keputusan.

Jika saya ingin membuat sebuah simpulan sederhana untuk perempuan tangguh yaitu perempuan yang siap dan tak gentar dengan segala ketidakpastian dalam kehidupannya. Maka jadilah mereka Perempuan Perkasa...sungguh luar biasa.

Tulisan ini diinspirasi oleh LS