Introduction

Monday, August 17, 2020

Merdeka adalah...

 🎈 📅 Agustus 1945🎈


Merdeka adalah:

bebas memilih

bebas menentukan

bebas berpendapat

bebas berekspresi

bebas berbicara

dan seribu kebebasan lainnya…

 

Merdeka adalah:

kesadaran bahwa kita tak sendiri

kesadaran orang lain memiliki hak

kesadaran orang lain memiliki pikiran

kesadaran orang lain memiliki cara

kesadaran orang lain ingin berbicara juga

dan seribu kesadaran lainnya…

 

Merdeka adalah:

saling menghargai

saling menghormati

saling memahami

saling membantu

saling mendukung

 

Merdeka adalah:

membuang ego masing-masing

membuang hanya mencintai diri sendiri

membuang rasa malas

membuang kesombongan diri 

 

Merdeka itu:

kerja keras

kerja cerdas

kerja tulus ikhlas

kerja dengan hati dan cinta 

 

Merdeka itu:

tidak absolut

tidak bisa sendiri

tidak milik sendiri

 

Sejatinya merdeka adalah kebebasan yang didasari

 atas kesadaran tinggi bahwa menjadi merdeka tidak bisa dibangun seorang diri 

dan tanpa kerja keras.

 

 🎈 📅 Agustus 2020🎈



 Illustrated by Water Planet
www.water-planet.co

Tuesday, August 4, 2020

Bukan Manusia Bumi


Jika tidak di bumi, dimana manusia berada…? Bumi tempat manusia berpijak ternyata dihuni pula oleh orang yang sepertinya tidak memiliki “KTP” penduduk bumi. Semua perbuatannya, tingkah lakunya, sikapnya bahkan senyumnya tidak menggambarkan sama sekali penduduk bumi yang kerap tak jelas arah dan tujuannya.

Saya teringat kisah Uwais Al-Qarni (594 M – 657 M) seorang Tabi’in yang hidup di zaman Nabi Muhammad Saw tapi tidak sempat bertemu Rasulullah. Cinta dan bakti Uwais kepada ibunya sangat luar biasa, walaupun dengan segala keterbatasan. Oleh karenanya ia memang pantas disebut sebagai penghuni langit. Jalan yang dipilih Uwais seharusnya memberi inspirasi kepada segenap penduduk bumi yang tidak memiliki keterbatasan untuk berbakti dan berbuat kebajikan.

Bagi manusia penghuni bumi pada umumnya, tampak tak mungkin menggapai langit. Langit sebagai tempat turunnya berbagai pesan Ilahi berjarak jauh dari bumi tetapi bisa juga terasa sangat dekat… karena ia ada di hati manusia yang senatiasa berbuat kebajikan. Jika manusia bumi berniat menggapai langit, maka manusia membutuhkan sayap untuk terbang tinggi mencapai langit.

Sayap syukur dan sayap sabar ternyata mampu mengantarkan  manusia untuk menjadi anggota manusia langit. Manusia bumi tak perlu meninggalkan berbagai urusan bumi tempat kita berpijak karena itupun pesan Ilahi. Tetapi kawal selalu dengan syukur dan sabar agar  setiap saat manusia bisa “mampir” ke langit.

Syukur dan sabar, dua kata “pembawa” manusia ke langit yang kerap diucapkan untuk mengiringi doa dan harapan baik tersebut memang indah dan mudah disebut. Tapi tak terlalu mudah dilaksanakan. Untuk sampai pada benar-benar mensyukuri atas karunia Ilahi karena kita diberi kesempatan menikmati hidup, ternyata harus melalui perdebatan batiniah yang panjang dan berliku. Begitu pula sabar…

Banyak manusia tidak sabar menghadapi kesulitan dan memperjuangkan kebajikan dalam hidup ini. Manusia ingin segala sesuatu berjalan cepat, lancar dan berhasil dengan gemilang. Tergesa-gesa memang salah satu sifat manusia.

Walaupun manusia tidak bisa menembus bumi dan tidak mampu menjulang setinggi gunung, tapi manusia diberi akal dan kalbu untuk belajar bersyukur dan bersabar. Karena syukur dan sabar itu  ilmu tingkat tinggi maka selama hayat masih di kandung badan, manusia tidak boleh berhenti belajar untuk menggapainya. Mari belajar bersama… teruslah belajar untuk mencapai langit…




 


 

 

 

Sunday, July 26, 2020

Bekerja dengan Hati


Halo Junior...

Kali ini saya ingin menyapa para junior pembaca setia Bumi Senior, yang penuh gairah hidup dan semangat. Anda pasti sering mendengar orang mengatakan jika ingin pekerjaan kita berhasil dengan baik maka harus memiliki “passion” di bidang yang kita geluti. Work with Passion “bekerja dengan hati” dibicarakan bukan hanya pada obrolan santai kelas “warung kopi” saja, tetapi juga dalam diskusi ilmiah yang disampaikan oleh para pakar atau webinar yang sedang naik daun belakangan ini. 

Dalam Bahasa Indonesia passion tidak dapat diselaraskan dengan hanya “ketertarikan” karena passion juga memuat makna “gairah”. Maka saya lebih suka menyelaraskannya dengan “bekerja dengan hati”. 
Saya tentu percaya jika seseorang bekerja di bidang yang disukai akan lebih gampang menyesuaikan diri, menikmati dan sulit dilanda rasa bosan. Hal tersebut bukan bermakna “mudah” tetapi menjadi “lebih mudah”. 

Jika Anda tidak seberuntung itu, mendapat pekerjaan atau bekerja sesuai dengan minat, hobi atau “impian” apalagi di masa yang tak mudah ini, tentunya harus ada upaya dan mungkin penuh perjuangan untuk menjadi jatuh cinta pada yang kita kerjakan. Sayapun percaya itu sangat mungkin… seperti ungkapan witing tresno jalaran soko kulino “cinta itu lahir dari kebiasaan”. Begitu pula dengan pekerjaan.

Secara umum bekerja dengan hati merujuk kepada segala pekerjaan atau kegiatan yang sesungguhnya kita cintai atau tidak kita cintai tapi dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Tak terlalu berpikir apakah akan banyak menguntungkan diri, menjadi terkenal atau mendatangkan harta berlimpah, tetapi sadar bahwa apa yang dilakukan memberi kemaslahatan bagi khalayak. Kalaupun hal tersebut kita dapatkan, maka itu menjadi “bonus” keikhlasan hati menjalaninya dengan penuh tanggung jawab.

Jika Anda mampu melampaui batas-batas ketidaknyamanan menjadi nyaman, atau Anda mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan dan pekerjaan yang bukan “passion” itu, maka di situlah kehebatannya.
Bukan mudah tentunya, tapi selalu ada jalan menuju kebaikan jika diniatkan baik.
Jadi tidak perlu meributkan apakah ini “passion” atau bukan, bekerja saja dengan penuh tanggung jawab dan bekerjalah dengan hati maka cinta itu biasanya akan tumbuh…



Sunday, July 12, 2020

Kurikulum Semesta untuk Bumi


Saya tertarik dengan pernyataan yang ditulis oleh sahabat saya sesama senior* “pelajaran yg tercantum dalam Kurikulum Semesta adalah mengolah batin or mengasah budi tingkat demi tingkat lapis demi lapis sampai lapis terhalus n tingkat tertinggi”. Pernyataan ini disampaikan kepada saya melalui pesan pribadinya untuk menambahi atau mengomentari artikel saya yang bertajuk “Orang Pintar versus Orang Baik” di sebuah “blog keroyokan” (jika penasaran silakan berselancar).

Saya setuju seratus persen dengan pernyataan tersebut karena pada dasarnya hidup ini adalah belajar. Sampai pada akhirnya akan menghasilkan manusia pintar yang baik budi, manusia pintar yang buruk hati, manusia baik hati dan tak pintar atau yang paling parah manusia tak pintar yang buruk hati… Memang tidak mudah mencari kombinasi ideal agar dapat memiliki manfaat di bumi manusia ini.

Oleh karena itu saya menganggap baik budi itu  menjadi dasar bagi seseorang untuk menghasilkan sesuatu yang bergaung keras dan kuat ke segala penjuru bumi ini. Hasil dari perbuatan baiknya akan dirasakan oleh semesta alam raya.

Orang baik budi bisa berada dimanapun meskipun tidak selalu dapat diterima oleh siapapun karena ia akan dianggap “mengganggu” oleh orang yang buruk hati. Tapi pasti tidak akan ada kerugian apapun juga jika tidak disukai oleh si buruk hati.

Kembali kepernyataan sahabat saya di atas bahwa jika kita mengikuti “kurikulum semesta” yang telah disusun dengan sempurna oleh pemilik semesta alam raya secara berjenjang niscaya kita akan berhasil menjadi orang baik budi. Masalahnya manusia memang diberi keleluasaan dalam mewarnai jalan hidupnya, bisa putih bersih bagaikan kapas, berwarna-warni bak pelangi atau hitam kelam bagaikan malam tak berbintang.

Menurut sahabat saya, kurikulum itu memuat pelajaran mengolah batin atau mengasah budi. Banyak ancangan yang dapat digunakan untuk mengolah batin atau mengasah budi, yang paling mudah dan sangat manjur menggunakan ancangan agama karena di dalamnya sudah memuat aturan-aturan serta etika moral yang lengkap. Jika Anda lulus dari mata pelajaran tersebut maka Anda diperkenankan mengikuti tingkat atau lapis berikutnya. Begitu seterusnya sampai pada tingkat tertinggi dan akhirnya Anda akan dinyatakan lulus dengan menyandang predikat “orang baik budi” di bumi manusia ini.

Karena kurikulum itu cukup berat, jadi ada kemungkinan orang tidak bisa melaluinya dengan baik alias tidak lulus. Kelompok ini tentu saja bisa tidak berhasil di berbagai tingkat atau lapisan. Oleh karena itu tingkatan orang baik juga berbeda-beda mulai dari grade 1 sampai dengan grade tertinggi yaitu “orang baik budi”.

Ternyata tak telalu mudah juga menjadi orang baik budi…

 
Berbagi Pesan Bersama Sahabat Senior

*) Special thanks to Ibu Santi P. Mardikarno

 

 


Friday, July 3, 2020

Perempuan Merdeka


Halo para perempuan...

Rasanya saya bahagia setiap kali bisa menyapa Anda semua… Sapaan kali ini saya tujukan bukan hanya untuk para  perempuan senior saja tetapi untuk semua perempuan yang pandai bersyukur dan bahagia karena terlahir sebagai perempuan.

Saya sengaja membuat tajuk tulisan ini “Perempuan Merdeka” karena menurut pengamatan kasar saya (bukan hasil riset), masih banyak perempuan terperangkap dengan “keperempuanannya”.  Misalnya, “memaksa”  berkulit putih, berwajah tirus dan harus ramping, atau beralis bagaikan semut beriring… maka dikejarlah tampilan “cantik” versi tersebut. 
Tentu saja, saya tidak ingin mengatakan bahwa berpenampilan cantik atau berupaya tampil cantik itu salah. Tetapi saya lebih berbahagia untuk mengatakan cintailah wajah Anda, tubuh Anda apa adanya karena itu pemberian Ilahi yang membawamu ke berbagai tempat yang Anda inginkan, mengantarkan Anda pada pencapaian saat ini, dan semua hal yang mungkin tak pernah Anda syukuri sebelumnya.

Menjadi perempuan dengan jiwa yang merdeka seharusnya melekat pada setiap perempuan. Masalahnya, sebagian perempuan, dan saya yakin itu bukan Anda, masih gemar melemahkan dirinya sendiri dengan hanya berbicara masalah tubuh. Padahal apa salahnya tubuh ini?  

Menurut saya, kecantikan perempuan tidak pada tubuh atau wajah… Ia bersifat harmoni dan menjadi satu kesatuan yang utuh, gabungan antara hati, pikiran dan menjaga kehormatan diri. Maka dengan demikian orang akan dapat menilik kecantikan Anda.

Perempuan harus mampu melepaskan diri dari segala batas-batas yang melemahkan akal pikiran dan stigma atau label yang melekat padanya, kecuali tentu saja hal-hal yang kodrati. Ia harus memiliki kebebasan dalam memilih dan menentukan jalannya serta mampu  pula mengenali dirinya sendiri, potensinya, keinginannya dan untuk selanjutnya dapat memanfaatkan semua itu demi kemaslahatan.

Perempuan tidak perlu berupaya menyamakan diri dengan laki-laki karena itu upaya yang sia-sia. Bangun saja relasi setara antara perempuan dan laki-laki karena pada hakikatnya perbedaan itu untuk saling melengkapi. Tak perlu dipaksakan… Biarkan berbeda, biarkan tak sama, berjalan saja di jalan kita dan bertindaklah dengan kebijaksanaan bukan dengan emosi dan kebodohan.
Maka jadilah Anda Perempuan Merdeka...
 
Tak hanya R. A. Kartini. 
Menurutku semua perempuan yang menghargai dirinya, menghargai, dan menginginkan kemajuan sesamanya, Harum namanya.

(KH. Ahmad Mustofa Bisri)


 Untuk perempuan yang bersyukur terlahir sebagai perempuan

Friday, June 19, 2020

Forever Young


Kelompok senior yang semangatnya senantiasa muda dan seorang anak muda yang menjadi inspirasi saya kali ini memang “agak tak biasa” jiwa mengabdinya. Bukan berarti mereka mengabaikan kehidupan pribadinya tetapi menurut saya, mereka mampu menyelaraskan dengan sempurna antara ranah kehidupan pribadi dan pengabdian. Memang mereka memilih dengan sadar dan merasa terpanggil untuk menekuninya meskipun dalam situasi tidak terlalu mudah, sehingga hasilnya menjadi sebuah kesempurnaan hidup.

Bagi para pengabdi, usia bukan menjadi penghenti atau penghambat tugas kebajikan, bahkan usia harus mampu meningkatkan totalitas kepatuhan untuk berbuat lebih baik. Apakah angka pada usianya berjumlah banyak atau masih dapat Anda hitung dengan jumlah jari Anda dan pasangan Anda… semangat harus terus membara demi kemaslahatan.

Manusia-manusia hebat yang semangatnya selalu muda itu meyakini bahwa kewajiban manusia merupakan tanggung jawab yang diberlakukan kepada semua orang. Tanggung  jawab terhadap kewajiban inilah yang akhirnya  memiliki nilai lebih tinggi karena dijalankan oleh suara hati.

Nurani para pengabdi seakan-akan menyatu dengan alam semesta dan seisinya. Tanggung jawab untuk memberikan sumbangsih nyata, memberikan segala kemampuan, pikiran dan tenaga diejawantahkan dengan nyata hanya karena tak ingin generasi berikut tak bisa mewarisi indahnya bumi dan tetap pada “ketidaberadaban”.

Bukan mereka tak pernah menghadapi rintangan, tetapi keyakinan bahwa "Sang Pemilik" berpihak kepada jalan keiklasan ini, maka jadilah pengabdian ini seakan tak berujung. Mereka juga tidak biasa menghitung berapa banyak yang sudah dikeluarkan dan didapatkan karena tidak akan pernah bisa dihitung secara matematis... apalagi jika kita ingin menghitungnya dengan mesin penghitung... tidak ada satu pun  yang menyediakan "angka"* sejumlah itu. Jadi biarkan semua terus berjalan seiring dengan usia berjalan

Yang ada pada benak para pengabdi hanyalah bahwa semua penghuni jagat raya memiliki derajat yang sama di muka bumi maka sudah seharusnya manusia memiliki kepedulian antar sesama, mahluk Ilahi lainnya dan bumi tempat berpijak.
  

Karena Aku Bersyukur Maka Aku Mengabdi,
 Aku Mengabdi karena Aku Bersyukur

Seniors & Junior
  
Usia Tak Berbatas

Selamanya Muda untuk Pengabdian
Dedicated to SRS,JK, AS
*Thanks to Bro Syam

Friday, June 12, 2020

Aku dan Pikiran


Pada saat Anda berpikir,apakah Anda juga berpikir tentang apa sesungguhnya pikiran itu... dimana pikiran itu berada... atau makhluk apakah pikiran itu... sampai-sampai Anda harus meluangkan banyak waktu untuknya. Apakah benar "Aku Berpikir Maka Aku Ada” “Cogito Ergo Sum” (Descartes)

Hubungan “Aku” dan “Pikiran” yang terjalin indah berabad lamanya itu tampak tak berpangkal dan tak berujung. Sampai pada suatu masa di suatu tempat yang tak jelas keberadaannya terjadi percakapan panjang antara “Aku” dan ”Pikiran.”

Untuk memudahkan maka saya saripatikan perbincangan antara “Aku” si maha merasa memiliki dan “Pikiran” si maha merasa penting.

“Dialog antara Aku dan Pikiran di Suatu Masa”
(hari-tanggal-bulan-tahun)

Aku      :Siapa kamu...?
Pikiran  :Aku adalah inti hidup
Aku      :Mengapa kamu berada di situ padahal aku tidak  mengenalmu
Pikiraan :Kamu sangat dekat denganku
Aku      :Bagaimana mungkin kamu bisa dekat denganku
Pikiran  :Kamu selalu membutuhkan aku. Tiada hari tanpa aku
Aku      :Jelaskan kepadaku siapa sesungguhnya kamu...
Pikiran  :Akulah yang selalu ingin kamu kuasai... padahal aku bukan  kamu... Aku adalah Aku, “entitas mandiri”
Aku      :Aku tidak paham maksudmu
Pikiran  :Tentu saja tidak,   karena kamu tidak akan mampu melakukan apapun tanpa aku. Jika  kamu lupa, kuperkenalkan kembali bahwa aku adalah “Pikiran”
Aku     :Ahaaa... Wahai “Pikiran” diamlah di tempatmu karena kamu bukan apa-apa jika tanpa aku. Akulah pemilikmu...
Pikiran  : Jika aku meninggalkan kamu maka kamu bukan “kamu” lagi dan tidak dapat disebut manusia
Aku      :....???
Pikiran  :....???

Perbicangan terhenti... baik “Aku” maupun “Pikiran” terhenyak... Dua “makhluk ajaib” yang sesungguhnya berbeda tetapi tanpa disadari saling membutuhkan dan kerap kali harus berjalan seiring... meskipun bukan menjadi keterwakilan atas masing-masing entitas.

“Pikiran” adalah  sebuah timbunan pengalaman fisik dan mental yang muncul akibat proses luar sadar dalam otak manusia. Kadang kala ia bersikap liar karena menemukan pengalaman batiniah lain yang mewarnai hidup tapi sesungguhnya tak dikendaki oleh “Aku”. Oleh karena itu “Aku” kadang tak mampu menguasai dan mengatur “Pikiran” sesuai kehendaknya. “Pikiran” akan berubah menjadi baik jika menerima masukan baik, tetapi jika masukan itu buruk maka buruklah ia…

Sedangkan “Aku” sesungguhnya baik hati dan budiman karena ia milik Ilahi. “Aku” adalah perwujudan unsur-unsur materi yang ditentukan oleh ruang dan waktu serta melekat pada pada tubuh manusia "man the unknown" yang tak pernah selesai diperdebatkan oleh para pakar. “Aku” sebenarnya selalu berusaha menguasai “Pikiran” walaupun “Aku” tidak sama dengan “Pikiran” tapi “Aku” adalah tuan dari “Pikiranku” karena ia melekat pada tubuhku

Oleh karena itu tak perlu berpayah-payah memaksa agar “Aku” selalu sama dengan “Pikiran” atau “Pikiran” selalu sama dengan “Aku” karena tidak akan berhasil... kecuali Anda meminta bantuan kepada hati nurani “Qalbu”, akalmu dan tubuhmu sebagai pemilik kesemuanya itu.

Sejatinya yang dibutuhkan hanya kesadaran yang "benar-benar sadar" bahwa “Pikiran” itu bukan “Aku....”. Pahami saja diri Anda maka pikiran akan mengikuti… dan hidup akan menjadi lebih indah...

Aku Bersyukur karena Nuraniku Menuntun Pikiranku


Untuk jiwaku yang tak pernah padam. If...

 

Friday, June 5, 2020

Choices, Chances, Changes


Apa yang Anda pikir jika saat ini Anda akan memasuki usia 50 tahun...? Melihat ke belakang sambil membayangkan pencapaian Anda dan mulai merencanakan langkah berikut...? Menatap ke muka sambil membayangkan betapa Anda akan menjadi semakin tua dan ada “kengerian” mengikuti...?, baru kemudian Anda tetapkan langkah. Atau, Anda berpikir untuk membiarkannya berjalan secara alamiah saja...? “Let it flow...?”

Menurut saya tidak ada yang salah dengan ketiga “model” pikiran di atas. Yang salah jika Anda tidak pernah berpikir sama sekali... maka, itu menakutkan bagi saya.

Sengaja saya membuka tulisan ini dengan batas usia 50 tahun karena saya beranggapan usia 50 tahun adalah usia berpindahnya tahapan hidup manusia, tahap hidup muda dan penuh gairah menuju tahap baru menjadi masyarakat senior. Seorang sahabat baik saya, lebih suka menyebut masyarakat senior dengan Advance Age Group/ AAG (“thanks, Bro…”)*.

Banyak hasil riset yang menyatakan bahwa usia 50 tahun ke atas menjadi momentum orang untuk lebih tenang karena sebagian besar rencana hidup sudah tercapai, karir membaik, mungkin anak-anak sudah besar dan lain lain. Tetapi seiring dengan itu, penyakit juga mulai bermunculan. Paduan antara pencapaian dan penyakit serta masalah hidup lain membuat orang mulai merancang langkah baru atau memperbarui rencana memasuki usia senior.

Jika pencapaian sebelum usia 50 tahun dianggap cukup baik karena Anda selalu memanfaatkan kesempatan yang datang tentu tidak ada salahnya Anda mengikuti “alur” tersebut dengan beberapa modifikasi setiap satu dekade. Yang saya maksud dengan “alur” misalnya perhitungan finansial berjalan lancar, tabungan masa depan sudah berjalan, sudah memiliki asuransi kesehatan, bekerja sampai satu dekade pertama, dekade berikutnya bekerja paruh waktu atau tetap bekerja dan seterusnya. Menurut saya, ini sangat ideal “on the right track”. Untuk mendapatkan hasil yang lancar seperti ini, sudah pasti rancangan pola hidup harus dimulai sejak lama dan dengan asumsi semua berjalan lancar tanpa hambatan yang berarti. 

Karena jalan hidup orang beragam, atau kesadaran akan persiapan “masa depan” muncul belakangan, atau bisa pula Anda menganggap model kehidupan sebelumnya tidak akan sesuai lagi karena, misalnya terlalu “hedonis” atau pandangan hidup Anda berubah karena sesuatu hal, maka ini saatnya Anda mengubah dan memulai “hidup baru…”. Menata ulang hidup pada saat usia memasuki 50 tahun perlu upaya besar, dari mulai mengubah gaya hidup sampai dengan cara pandang. Tapi sepanjang Anda yakin bahwa rancangan atau langkah baru itu membuat Anda lebih tenang, nyaman dan bahagia, tentu tidak ada yang perlu ditakuti, jalanilah saja dengan penuh semangat karena ada sesuatu yang indah menanti di depan.

Apabila Anda menganggap dua model di atas terlalu menjadi beban karena harus membuat perencanaan baru, mengubah gaya serta pikiran, maka membiarkan hidup Anda bergulir secara alamiah yang akan menjadi pilihan. Pilihan ini biasanya karena Anda menganggap tidak ada yang salah dengan yang sudah dijalani dan “model” ini masih bisa berlangsung meskipun usia bertambah. Ikuti saja kemana arah air mengalir… Tapi berhati-hatilah karena air tidak tenang terus menerus. Ketenangan air akan tergantung juga kepada banyak hal misalnya ketinggian atau bebatuan. Begitu pula hidup… Jadi bagi yang belum sampai usia 50 tahun, bersiap-siaplah untuk menyambut “the fantastic fifty…”

Karena hidup hakikatnya tentang memilih …
                              
                                                                                                   *CMF